
BATU, RADAR BATU - Tingginya serapan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) belum sepenuhnya menjawab kebutuhan industri di Kota Batu. Kalangan pengusaha menilai, tantangan berikutnya terletak pada kesiapan mental, kedisiplinan, dan ketahanan menghadapi tekanan kerja.
Karena itu, penguatan pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) hingga pola magang dinilai perlu diperluas. Industri membutuhkan lulusan yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu bertahan dalam ritme kerja.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengatakan, kemampuan teknis lulusan SMK sebenarnya sudah cukup baik. Sejumlah siswa bahkan mampu menunjukkan keterampilan yang tidak kalah dari pekerja profesional.
Baca Juga: 85 Persen Lulusan SMK Batu Langsung Kerja - Radar Batu
“Dalam kompetisi making bed, misalnya, waktu penyelesaian tugas anak sekolah ini hanya terpaut sedikit, bahkan bisa lebih cepat mengalahkan karyawan profesional,” ujarnya.
Namun, kemampuan teknis tersebut belum selalu berbanding lurus dengan kesiapan menghadapi lingkungan kerja. Tekanan dan tuntutan kedisiplinan berubah ketika siswa berstatus sebagai karyawan.
Saat magang, kesalahan masih dianggap bagian dari proses belajar. Kondisinya berbeda ketika siswa sudah menjadi pekerja tetap. Target, disiplin, dan tanggung jawab perusahaan mulai melekat.
“Kalau masih magang melakukan kesalahan dimaklumi, berbeda kalau sudah karyawan,” katanya.
Karena itu, sejumlah hotel di Kota Batu lebih memilih merekrut calon tenaga kerja melalui jalur magang. Masa praktik kerja lapang (PKL) yang dapat berlangsung hingga enam bulan memberi kesempatan bagi perusahaan untuk menilai karakter dan konsistensi siswa.

