Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

434 Lulusan SMP Amankan Kursi SMA/SMK Negeri Jalur Domisili, Kuota Dipecah Berlapis, Dekat Sekolah Belum Tentu Lolos

Rori Dinanda Bestari • Senin, 15 Juni 2026 | 14:00 WIB
Grafis data SPMB jalur domisili Kota Batu.
Grafis data SPMB jalur domisili Kota Batu.

 

BATU, RADAR BATU - Hasil seleksi jalur domisili Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA dan SMK negeri di Kota Batu diumumkan pada Sabtu lalu (13/6). Seleksi yang digelar secara sistematis sejak 11-12 Juni tersebut sukses menjaring 434 lulusan SMP. Rinciannya, 328 kursi terisi di jenjang SMA dan 106 kursi di jenjang SMK.

Pergeseran formula penilaian pada jalur domisili mengubah peta persaingan. Sebelumnya, pertimbangan utama jalur itu hanya sekadar melihat kedekatan jarak rumah dengan sekolah saja. Namun, kini pertimbangannya ditambah kualitas akademik. Porsi jalur domisili tahun ini dipatok berbeda antarjenjang.

BACA JUGA: ​Bantu Warga Batu, IshK Tolaram Eye Centre (ITEC) Gelar Periksa Mata Gratis di CFD

Kuota SMA ditetapkan sebesar 35 persen, sedangkan SMK hanya 10 persen. Kasi SMA dan PLKLPK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Malang-Batu M. Asrofi menyebut pembagian daya tampung jenjang SMA tahun ini dirancang lebih kompleks.

Skema kuota SMA dipecah menjadi tiga lapis. Rinciannya meliputi 19 persen untuk jalur reguler, 15 persen jalur sebaran demi pemerataan kuota desa, dan 1 persen dialokasikan bagi lulusan gap year. Pada eksekusinya, 185 kursi berhasil diamankan lewat jalur reguler. Sisa kuota diisi oleh 139 siswa jalur sebaran dan 3 siswa gap year.

BACA JUGA: BPR Dhana Lestari Getol Gaet Nasabah Warga Batu

Penyerapan siswa di jenjang SMK juga berlangsung ketat. SMKN 1 dengan total pagu 394 kursi menerima 40 siswa. Disusul SMKN 2 yang meloloskan 30 siswa, dan SMKN 3 menyerap 36 siswa baru.

Perubahan paling vital tahun ini terletak pada formula pemeringkatan. Sistem murni jarak resmi ditinggalkan. Penilaian kini mengombinasikan 60 persen nilai rata-rata rapor dan 40 persen nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA). Asrofi mengakui kebijakan baru ini membuat jalur domisili terasa bak jalur prestasi.

BACA JUGA: Mengapa Kulit Terlihat Kusam Meski Skincare Sudah Mahal? Coba Cek Kebiasaan Ini

Sistem baru ini langsung memakan korban para pendaftar berjarak dekat tapi memiliki nilai TKA rendah. “Di SMAN 1 Batu, peringkat pertama berjarak 1,2 kilometer tapi skor TKA-nya tinggi di angka 91,53. Sementara peringkat kedua yang jaraknya hanya 535 meter memiliki nilai lebih rendah,” beber Asrofi.

Skema ini diklaim efektif menjadi filter keadilan standar kualitas sekolah negeri. Selain ketatnya penilaian akademik, pendaftaran SPMB ini juga mengikat. Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMAN Kota Batu Anto Dwi Cahyono menegaskan sistem penerimaan bersifat statis.

BACA JUGA: Kerja Sama TVRI dan Polri: Hadirkan Nobar Piala Dunia 2026 untuk Gerakkan Ekonomi UMKM

Begitu calon murid dinyatakan lolos di satu sekolah, sistem langsung mengunci nomor identifikasi pribadi atau PIN milik peserta. “Tidak ada ruang lagi untuk pindah haluan ke SMK atau sekolah lain. Mereka harus segera memproses daftar ulang,” jelas Anto.

Kepala SMAN 1 Batu ini meminta calon murid yang gugur seleksi untuk tidak panik. Peluang mengamankan kursi sekolah negeri masih terbuka lebar. Peserta bisa kembali bersaing memperebutkan sisa kuota pada jalur afirmasi dan prestasi yang segera digulirkan pada tahapan berikutnya. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#sma/smk kota batu #jalur domisili #spmb