BATU, RADAR BATU – Pernah merasa sudah membuat jadwal belajar, daftar target, hingga rencana harian yang rapi, tetapi tugas tetap tidak kunjung dikerjakan? Fenomena ini kini sering disebut sebagai overplanning, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu sibuk merencanakan sesuatu hingga sulit benar-benar memulainya.
Fenomena ini semakin sering dialami pelajar, terutama di tengah tuntutan sekolah yang padat, banyaknya target akademik, dan keinginan untuk selalu tampil sempurna. Akibatnya, siswa justru lebih banyak mengatur rencana dibanding mengambil tindakan nyata.
Terlalu Banyak Merencanakan Bisa Jadi Bentuk Penundaan
Dilansir dari laman Ashley Janssen, overplanning terjadi ketika seseorang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir, menyusun strategi, membuat daftar, atau mencari cara terbaik melakukan sesuatu, tetapi tidak kunjung memulai pekerjaan tersebut.
Baca Juga: Fenomena Siswa Sulit Menikmati Momen karena Sibuk Mengabadikannya di Media Sosial
Sekilas kegiatan ini terlihat produktif karena siswa merasa sedang “mempersiapkan diri”. Namun sebenarnya, overplanning bisa menjadi jebakan yang membuat seseorang terus menunda tindakan karena ingin semuanya terasa sempurna terlebih dahulu. Kondisi ini sering dipicu oleh rasa takut gagal, takut membuat kesalahan, atau keinginan untuk mengontrol semua hasil agar berjalan sesuai rencana.
Siswa Bisa Mengalami “Analysis Paralysis”
Sementara itu, laman Anna D. Kornick menjelaskan bahwa overplanning sering berkaitan dengan kondisi bernama analysis paralysis, yaitu situasi ketika seseorang terlalu banyak berpikir hingga kesulitan mengambil keputusan dan memulai pekerjaan. Pelajar yang mengalami kondisi ini biasanya terus merevisi jadwal, mengatur ulang to-do list, atau mencari metode belajar terbaik tanpa benar-benar mulai belajar.
Beberapa tanda overplanning pada siswa antara lain terlalu lama berada di tahap persiapan, merasa kewalahan dengan banyak pilihan, takut hasil tidak sempurna, hingga menggunakan kegiatan “merencanakan” sebagai alasan untuk menghindari tugas utama. Akibatnya, tugas sekolah justru semakin menumpuk dan siswa merasa makin stres karena target yang sudah dibuat tidak berjalan sesuai harapan.
Mulai dari Langkah Kecil Lebih Penting daripada Rencana Sempurna
Baca Juga: Fenomena “Morning Exhausted” pada Pelajar, Baru Bangun tapi Sudah Lelah
Psikolog dan pemerhati produktivitas menyarankan agar pelajar mulai belajar menyeimbangkan antara merencanakan dan bertindak. Membuat rencana memang penting, tetapi terlalu lama berada di tahap persiapan justru bisa menghambat progres.
Beberapa cara yang dapat membantu mengurangi overplanning antara lain menetapkan batas waktu saat membuat rencana, membagi tugas menjadi langkah kecil, serta mulai mengerjakan bagian paling sederhana terlebih dahulu. Siswa juga disarankan menerapkan pola pikir good enough, yaitu memahami bahwa hasil tidak harus selalu sempurna untuk bisa dimulai. Membiasakan diri fokus pada tindakan kecil setiap hari juga dapat membantu siswa keluar dari kebiasaan terlalu banyak berpikir.
Editor : Aditya Novrian