BATU, RADAR BATU – Banyak pelajar kini terlihat lebih fokus mengambil foto, merekam video, atau membuat konten saat berada di suatu momen penting. Mulai dari acara sekolah, konser, jalan-jalan, hingga sekadar nongkrong bersama teman, semuanya terasa perlu diunggah ke media sosial.
Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat sebagian siswa justru sulit menikmati momen secara langsung karena perhatian mereka terbagi dengan kebutuhan mendokumentasikan aktivitas untuk media sosial.
Media Sosial Membuat Banyak Siswa Ingin Selalu Membagikan Momen
Dilansir dari laman Hipwee, media sosial kini menjadi tempat untuk berbagi berbagai pengalaman dan aktivitas sehari-hari. Banyak orang cenderung hanya mengunggah sisi menyenangkan dalam hidupnya, seperti jalan-jalan, nongkrong, makanan, atau pencapaian tertentu.
Baca Juga: Fenomena “Morning Exhausted” pada Pelajar, Baru Bangun tapi Sudah Lelah
Akibatnya, media sosial sering menampilkan kehidupan yang terlihat selalu bahagia dan menarik. Kondisi ini membuat sebagian pelajar merasa perlu terus mengabadikan momen agar terlihat aktif, seru, atau tidak tertinggal dari orang lain. Tidak sedikit siswa yang akhirnya lebih sibuk mencari sudut foto terbaik, merekam video, atau memikirkan unggahan dibanding benar-benar menikmati suasana di sekitarnya.
Padahal, tidak semua hal sebenarnya perlu dibagikan ke media sosial. Dalam artikel tersebut juga dijelaskan bahwa dunia nyata dan dunia maya memiliki batas yang perlu dijaga agar seseorang tetap nyaman dan tidak kehilangan makna dari pengalaman yang sedang dijalani.
Terlalu Lama Bermain Sosmed Bisa Memicu Digital Burnout
Sementara itu, laman Dictum Telkom University menjelaskan bahwa penggunaan media sosial yang terlalu intens dapat memicu kondisi bernama digital burnout, yaitu rasa lelah mental akibat terlalu lama terpapar dunia digital. Fenomena ini sering dialami generasi muda karena kebiasaan terus-menerus membuka media sosial, mengecek notifikasi, mengikuti tren, hingga merasa harus selalu update.
Beberapa tanda digital burnout antara lain sulit fokus, mudah lelah, suasana hati menurun setelah bermain media sosial, hingga merasa jenuh meski baru sebentar membuka aplikasi. Laporan GoodStats yang dikutip dalam artikel tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar Gen Z Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di media sosial. Intensitas penggunaan yang tinggi membuat pelajar semakin rentan mengalami kelelahan digital.
Selain itu, banyak siswa juga mengalami Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal informasi atau tren terbaru. Karena itu, mereka merasa harus terus aktif di media sosial dan sulit benar-benar lepas dari layar ponsel.
Baca Juga: “Random Sadness” pada Siswa, Ini Upaya untuk Menghentikannya
Pelajar Perlu Belajar Menikmati Momen Secara Langsung
Psikolog dan pemerhati kesehatan mental menyarankan agar pelajar mulai belajar menyeimbangkan kehidupan digital dengan kehidupan nyata. Mengabadikan momen memang tidak salah, tetapi siswa juga perlu memberi ruang untuk benar-benar hadir dan menikmati pengalaman secara langsung.
Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain membatasi screen time, mengurangi kebiasaan membuka media sosial saat berkumpul dengan orang lain, serta meluangkan waktu untuk aktivitas di luar layar seperti olahraga, membaca, atau berjalan santai. Siswa juga disarankan tidak merasa harus selalu mengunggah semua aktivitasnya ke media sosial. Tidak semua pengalaman perlu dibagikan agar tetap terasa bermakna.
Editor : Aditya Novrian