BATU, RADAR BATU – Lingkungan pertemanan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam kehidupan siswa, khususnya di jenjang SMA. Tidak hanya berdampak pada interaksi sosial, kualitas pertemanan juga berkaitan dengan pembentukan karakter, kepercayaan diri, hingga motivasi belajar siswa di sekolah.
Berdasarkan informasi dari laman sma.kemendikdasmen.go.id, pertemanan sehat ditandai dengan adanya rasa aman dan nyaman dalam berinteraksi. Siswa dapat menyampaikan pendapat tanpa merasa dihakimi serta tetap memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri. Dalam hubungan yang sehat, perbedaan tidak menjadi sumber konflik yang berkepanjangan, melainkan dapat dibicarakan secara terbuka dan dewasa.
Baca Juga: Meninjau Kembali “Ruh” Pendidik di Era Modern
Beberapa ciri lingkungan pertemanan yang sehat di antaranya saling menghargai pendapat, memberikan dukungan ketika teman mengalami kesulitan, serta menjaga kepercayaan dengan tidak menyebarkan hal yang bersifat pribadi. Selain itu, siswa juga dapat berinteraksi tanpa tekanan untuk mengikuti perilaku tertentu demi diterima dalam kelompok.
Sebaliknya, lingkungan pertemanan yang kurang sehat dapat memunculkan rasa tertekan, menurunkan kepercayaan diri, hingga mendorong siswa untuk membandingkan diri secara berlebihan. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kesehatan emosional serta semangat siswa dalam menjalani aktivitas di sekolah.
Lingkungan pertemanan yang positif dinilai mampu mendorong perkembangan siswa secara lebih optimal. Siswa cenderung merasa lebih percaya diri, memiliki motivasi belajar yang lebih baik, serta mampu menjalin hubungan sosial yang lebih sehat. Hal ini menunjukkan bahwa pertemanan tidak hanya berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi juga berperan dalam mendukung perkembangan diri siswa.
Kesadaran dalam memilih lingkungan pertemanan menjadi hal yang penting. Dengan berada dalam lingkungan yang mendukung, siswa memiliki kesempatan untuk berkembang secara lebih seimbang, baik secara sosial maupun emosional, serta lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Baca Juga: Nggak Muluk-Muluk, Mengapa Gen Z Cenderung Lebih Realistis dalam Menjalani Hidup?
Editor : Aditya Novrian