BATU, RADAR BATU – Lingkungan pertemanan menjadi bagian penting dalam kehidupan siswa, namun tidak semua hubungan sosial memberikan dampak positif. Di kalangan remaja, pertemanan yang tampak akrab dan dekat tidak selalu mencerminkan hubungan yang sehat.
Berdasarkan informasi dari laman yogyakartakota.kemenag.go.id, pertemanan yang tidak sehat kerap ditandai dengan hubungan yang tidak seimbang. Salah satu pihak cenderung lebih banyak memberi, sementara pihak lain hanya menerima. Kondisi ini dapat membuat siswa merasa dimanfaatkan dan kurang dihargai dalam hubungan pertemanan.
Baca Juga: Pentingnya Edukasi Seksual bagi Remaja di Lingkungan Pendidikan
Selain itu, bentuk interaksi seperti candaan yang merendahkan, membuka hal pribadi di depan orang lain, hingga menyindir kekurangan juga menjadi ciri yang perlu diwaspadai. Meskipun sering dianggap hal biasa, perilaku tersebut dapat berdampak pada kondisi emosional siswa dalam jangka panjang.
Ciri lain yang muncul dalam pertemanan tidak sehat adalah adanya rasa iri dan sikap tidak tulus. Alih-alih memberikan dukungan, keberhasilan seseorang justru direspons dengan sikap dingin atau sindiran. Dalam beberapa kasus, muncul pula perilaku posesif dan mengontrol, seperti membatasi pergaulan atau menimbulkan rasa bersalah ketika tidak mengikuti keinginan kelompok.
Baca Juga: Literasi Digital Menjadi Keterampilan Penting bagi Siswa di Era Saat Ini
Dampak dari lingkungan pertemanan yang kurang sehat tidak hanya dirasakan secara sosial, tetapi juga secara emosional. Siswa dapat mengalami kelelahan emosional, penurunan kepercayaan diri, hingga perasaan tertekan meskipun berada di tengah lingkungan pertemanan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan siswa. Lingkungan yang sehat umumnya ditandai dengan adanya dukungan, rasa saling menghargai, serta ruang untuk berkembang tanpa tekanan.
Baca Juga: Tak Hanya Hiburan, TikTok Dapat Dimanfaatkan Siswa untuk Belajar
Editor : Aditya Novrian