BATU, RADAR BATU – Kasus perundungan atau bullying di lingkungan sekolah masih menjadi persoalan serius. Selama ini, perhatian publik lebih banyak tertuju pada korban. Namun, memahami alasan di balik perilaku pelaku juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Berdasarkan pengertian Bullying dilansir dari halodoc, bullying adalah perilaku agresif yang seseorang lakukan dengan cara mengintimidasi korban. Ini mereka lakukan dengan tujuan untuk menyakiti dan cenderung terjadi secara terus menerus.
Baca Juga: Waspada! Cyberbullying Sangat Dekat, Ini Cara Cerdas Orang Tua Mendidik Anak Agar Aman di Dunia Maya
Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat peningkatan signifikan kasus bullying (perundungan) di lingkungan pendidikan. Berdasarkan laporan tahunan, kasus perundungan melonjak dari 285 pada 2023 menjadi 573 kasus di 2024, didominasi kekerasan fisik dan psikis oleh teman sebaya, serta sering berujung pada kasus serius seperti bunuh diri. Angka ini menegaskan bahwa perundungan bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan fenomena yang perlu ditangani dengan serius.
Salah satu faktor yang memicu anak menjadi pelaku adalah kondisi keluarga. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik atau kurang perhatian cenderung mencari pelampiasan di luar rumah. Anak yang sering menyaksikan keributan kedua orang tua berisiko jadi pelaku bullying. Kurangnya kasih sayang membuat anak mencari perhatian dengan cara yang keliru.
Baca Juga: Perundungan Bukan Bercanda, Saatnya Sekolah Jadi Ruang Aman untuk Generasi Bangsa
Selain itu, faktor kesenangan juga kerap menjadi pemicu. Bullying cenderung anak lakukan sebagai pelampiasan guna mendapatkan perhatian, bahkan menjadi ajang hiburan semata. Minimnya empati membuat pelaku tidak menyadari dampak yang ditimbulkan pada korban.
Tidak sedikit pula siswa yang melakukan bullying demi pengakuan sosial. Keinginan untuk dianggap “keren” atau dominan di lingkungan pergaulan mendorong mereka menindas teman yang dianggap lebih lemah. Di sisi lain, ada pula pelaku yang terdorong oleh pengalaman masa lalu. Balas dendam kerap korban bullying lakukan, meski targetnya bukan pelaku sebelumnya, melainkan orang lain yang dianggap lebih lemah.
Baca Juga: 35 Persen Lulusan SD Tak Tertampung di SMP Negeri Kuota Terbatas, Sistem Seleksi Diperketat
Memahami latar belakang mereka bukan berarti membenarkan tindakan tersebut. Peran orang tua dan sekolah menjadi krusial dalam menanamkan empati, mengelola emosi, serta menciptakan lingkungan yang sehat agar kasus serupa tidak terus berulang.
Editor : Aditya Novrian