BATU - Kekurangan guru agama mulai mengganggu kualitas pembelajaran. Dinas Pendidikan Kota Batu mulai ancang-ancang menyiapkan sejumlah skema untuk mengatasi minimnya tenaga pengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut. Masalah ini mengemuka dalam forum sarasehan dan pengukuhan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani kemarin (15/4).
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Alfi Nurhidayat menyebut kekurangan tenaga pendidik terjadi di berbagai jenjang. Hasil analisis beban kerja menunjukkan defisit sekitar 42 guru, baik guru kelas maupun mata pelajaran. “Kekurangan ini merata, termasuk guru agama,” ujarnya.
Kondisi diperparah gelombang pensiun. Banyak guru PAI berhenti tanpa diimbangi rekrutmen baru. Padahal, kebutuhan penguatan pendidikan karakter dinilai semakin mendesak. Terutama di daerah dengan dinamika sosial tinggi seperti Kota Batu. “Jangan sampai guru agama berkurang hanya karena pensiun,” katanya.
Keterbatasan kewenangan daerah menjadi kendala. Aturan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 melarang pengangkatan tenaga honorer baru. Akibatnya, pemerintah daerah hanya bergantung pada formasi dari pusat.
BACA JUGA Sering Memakan Korban, Ini Deretan Kecelakaan yang Pernah Terjadi di Jalur Klemuk Batu
Di lapangan, sekolah terpaksa melakukan penyesuaian. Sejumlah guru kelas harus merangkap mengajar pendidikan agama. Praktik ini dinilai tidak ideal. Kompetensi guru menjadi tidak sesuai dengan bidang keahlian.
“Secara kompetensi sebenarnya kurang tepat,” tegasnya. Sebagai langkah darurat, pemerintah melakukan penataan ulang penugasan. Guru PAI yang sebelumnya ditempatkan di sekolah swasta ditarik ke sekolah negeri.
Langkah ini diprioritaskan untuk menutup kekosongan di sekolah yang paling membutuhkan. Selain itu, usulan penambahan formasi guru agama telah diajukan ke Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM).
BACA JUGA Masuk Proyek Strategis Kota Batu, Apel Gratis Dapat Suntikan Rp2 Miliar
Upaya lain juga dilakukan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi. Program Batu Mengajar dimaksimalkan dengan melibatkan mahasiswa dari fakultas PAI. Mahasiswa tingkat akhir diberi ruang mengajar melalui skema Kampus Merdeka. “Mereka membantu mengisi kekosongan sambil menunggu formasi dari pusat,” pungkasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan