BATU - Operasional Madrasah Aliyah (MA) Bilingual yang kini berstatus MAN 2 Kota Batu filial dari MAN Kota Batu masih menunggu arahan rinci dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Timur. Meski telah resmi berstatus filial, sejumlah aspek teknis kelembagaan dan pengelolaan masih dalam tahap perumusan.
Kepala MA Bilingual Kota Batu yang kini menjabat Kepala MAN 2 Kota Batu Filial, Tri Sulistyowati, menuturkan sejumlah kebijakan strategis masih menunggu keputusan resmi dari Kanwil. Namun, beberapa kebutuhan mendesak telah disepakati dan mulai dijalankan, terutama terkait Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026.
Untuk sementara, proses SPMB dilaksanakan secara mandiri oleh masing-masing satuan pendidikan, baik madrasah induk maupun filial. Meski dilakukan terpisah, koordinasi tetap dijalin agar distribusi calon peserta didik berjalan seimbang.
“Rekrutmen siswa baru memang dilakukan terpisah, tetapi tetap berkoordinasi dengan madrasah induk. Pada gelombang kedua, ada kemungkinan pengalihan pendaftar dari MAN Kota Batu ke filial agar kuota terpenuhi secara proporsional,” ujar Tri.
Ia menyebutkan, kuota penerimaan tahun ini meningkat. MAN 2 Kota Batu Filial diproyeksikan membuka lima rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas maksimal 36 siswa per rombel. Dengan skema tersebut, daya tampung tahun ajaran berjalan diperkirakan mencapai 180 siswa.
Meski proses PPDB sudah berjalan, detail operasional harian madrasah filial masih terus dirumuskan. Menurut Tri, status sebagai kelas jauh dari madrasah induk membuat seluruh kebijakan strategis harus tetap merujuk pada ketentuan pusat dan arahan Kanwil.
Sebagai bagian dari penguatan kelembagaan, pihaknya juga mempertimbangkan studi tiru ke madrasah yang pernah mengalami transformasi serupa, dari swasta menjadi filial hingga berstatus negeri. “Yang terdekat dengan latar belakang sama ada di Kalimantan. Kami ingin menyiapkan fondasi sistemnya lebih dulu,” katanya.
Kepala MAN Kota Batu, Farhadi, menambahkan pengaturan teknis antara madrasah induk dan filial akan dilakukan secara bertahap. Kebijakan yang ada saat ini bersifat sementara dan terbuka terhadap penyesuaian dinamika di lapangan.
Dalam struktur pengelolaan, kepala madrasah filial tetap memegang kendali operasional harian. Sementara itu, madrasah induk menjalankan fungsi kontrol dan evaluasi berkala. “Kami tetap transparan dalam proses SPMB. Pengalihan siswa bukan paksaan, orang tua tetap diberi pilihan,” ujarnya.
Pada SPMB 2026, MAN Kota Batu membuka 14 rombel. Dua rombel di antaranya diproyeksikan diarahkan ke MAN 2 Kota Batu Filial. Selain itu, jalur reguler tertentu juga disiapkan untuk memperkuat kuota di madrasah filial.
Dari sisi akademik, kedua madrasah menggunakan kurikulum yang sama, yakni Kurikulum Berbasis Cinta (Cerdas, Inovatif, Nasionalis, Taqwa, dan Akhlak Mulia). Meski demikian, arah pengembangan ke unggulan masing-masing madrasah dibedakan.
MAN Kota Batu tetap difokuskan pada penguatan akademik, sedangkan MAN 2 Kota Batu Filial diarahkan pada penguatan kebahasaan dengan mempertahankan branding bilingual.
Untuk pengelolaan anggaran, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) madrasah filial akan diintegrasikan melalui madrasah induk dan disesuaikan dengan jumlah siswa.
Ijazah lulusan juga mengikuti madrasah induk, meski untuk lulusan tahun ini masih berpeluang menggunakan label MA Bilingual. Selama masa transisi, kedua madrasah juga membuka peluang kolaborasi dalam kegiatan ekstrakurikuler serta pemenuhan tenaga pengajar guna menutup keterbatasan sumber daya.
Skema tersebut masih dalam tahap konsultasi dan menunggu keputusan final dari Kanwil Kemenag Jawa Timur. Pihak madrasah berharap proses penataan kelembagaan ini tetap mendapat dukungan masyarakat. Penyesuaian yang dilakukan, kata Farhadi, ditujukan untuk memperkuat kualitas layanan pendidikan madrasah negeri di Kota Batu secara berkelanjutan. (dia/dre)
Disunting kembali oleh Afida Rahma Tsabita
Editor : Aditya Novrian