BATU - Keterbatasan akses transportasi masih menjadi persoalan nyata bagi pendidikan di wilayah pinggiran Kota Batu. Di SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2, tiga orang guru terpaksa merangkap peran sebagai sopir antar-jemput siswa setiap hari agar proses belajar mengajar tetap berjalan. Itu terjadi lantaran sekolah tersebut belum memiliki sopir khusus.
Sebagian siswa tinggal cukup jauh dari sekolah. Sementara, kondisi geografis wilayah yang tersebar, tapi minim angkutan umum. Dinas Pendidikan Kota Batu memang telah memfasilitasi satu unit mobil operasional. Namun, pengoperasian kendaraan sepenuhnya dibebankan kepada tenaga pendidik di sekolah tersebut.
Guru SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2, Eri Hendro Kusuma, menyebut saat ini terdapat tujuh siswa yang secara rutin dijemput dan diantar ke sekolah. Itu sudah berjalan sekitar dua tahun terakhir. Selain Eri, dua guru lain yang terlibat yakni Erris Kurniawan, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) dan Frida, guru Seni Budaya.
“Semuanya guru mata pelajaran, bukan tenaga khusus,” imbuhnya. Aktivitas antar-jemput dilakukan setiap pagi mulai pukul 06.00 hingga sekitar 07.00. Lamanya waktu tempuh disebabkan jarak rumah siswa yang berjauhan. Mulai dari wilayah Kecamatan Junrejo hingga Kelurahan Pesanggrahan.
Setelah tugas itu selesai, para guru tetap menjalankan kewajiban utama mengajar di kelas. Meski tidak keberatan, Eri mengakui kondisi tersebut bukan solusi ideal dalam jangka panjang. Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan lebih konkret melalui penyediaan sopir khusus atau integrasi siswa ke dalam program angkutan pelajar gratis.
“Supaya guru bisa lebih fokus mendidik, dan akses pendidikan anak-anak tetap terjamin,” ujarnya. Kondisi ini menjadi potret tantangan pemerataan layanan pendidikan di daerah dengan keterbatasan infrastruktur. Di satu sisi, dedikasi guru menjaga keberlangsungan sekolah patut diapresiasi. (dia/dre)
Editor : Aditya Novrian