BATU - Masih banyak guru di Kota Batu yang belum menyandang gelar sarjana. Berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik), jumlahnya mencapai 279 orang. Terdiri atas 213 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 38 guru SD, dan 28 guru SMP. Ada beberapa alasan mengapa ratusan guru tersebut belum sarjana.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu M Chori latar belakang pendidikan dulu sempat dinomorsekiankan dalam rekrutmen guru. Mengingat kebutuhannya cukup urgen untuk menutup kekurangan yang ada. Selain itu, rekrutmen guru juga banyak menyasar kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Posyandu.
Kebanyakan kader organisasi tersebut direkrut sebagai guru PAUD. Mereka dianggap kompeten karena keaktifannya dalam berorganisasi. Kendati begitu, tidak semua guru yang belum sarjana merupakan lulusan SMA/SMK/MA/Sederajat. Namun, ada pula yang lulusan diploma. Riwayat pendidikan terakhir guru kini jadi PR besar Pemkot Batu.
Pasalnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI kini mensyaratkan minimal pendidikan terakhir yakni S1. Aturan itu tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kendati begitu, Chori menegaskan guru yang kini belum sarjana dipastikan memiliki preferensi yang baik.
Itu berkat beberapa pengalaman mengajarnya yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Mereka juga kerap mengikuti beberapa pelatihan kompetensi untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai guru. Lebih lanjut, Kepala Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) SD Disdik Kota Batu Lendy Herdipuma mengatakan semua guru terdata di dapodik.
Namun, tak semuanya berada di posisi sebagai pengajar. Sebagian ditempatkan sebagai tenaga kependidikan (tendik). Seperti Tata Usaha (TU) hingga penjaga perpustakaan. Apalagi ada beberapa Guru Tidak Tetap (GTT) yang belum terdata di Pemkot Batu. Sebab, mereka diangkat secara mandiri oleh sekolah lantaran kebutuhan mendesak.
Dalam hal itu, surat pengangkatannya hanya tertandatangan kepala sekolah saja. Kendati begitu, Lendy menyampaikan pendataan ulang guru yang belum sarjana terus dilakukan. Alasannya karena beberapa guru sebenarnya sudah menempuh pendidikan S1. Namun, yang bersangkutan belum laporan untuk perubahan data identitas diri.
“Sehingga, pembaharuan pencantuman gelar tidak terdata oleh sistem dan dianggap belum sarjana,” paparnya. Saat ini, sinkronisasi dapodik terus dilakukan bagi guru yang belum sarjana. Dirinya menarget pendataan bisa tuntas pada tahun ini juga. “Apalagi kami juga diminta data itu untuk keperluan beasiswa dari pemerintah pusat,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho