BATU - Program seribu sarjana yang diusung Wali Kota Batu terpilih Nurochman dan Wakil Wali Kota Batu terpilih Heli Suyanto mendapat respon positif.
Sejumlah sekolah berharap program itu bisa berjalan tahun ini juga dengan menerapkan prinsip yang berkeadilan.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Negeri Kota Batu Anto Dwi Cahyono mengatakan tak jarang siswa berprestasi ragu untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Alasannya adalah faktor ekonomi.
Untuk itu, dia sangat menyambut program seribu sarjana itu.
Setidaknya, kasus siswa pintar yang tak melanjutkan ke perguruan tinggi bisa ditekan.
Anto menyampaikan sejauh ini sudah ada program beasiswa serupa.
Namun, kuota tiap tahunnya sangat terbatas.
Misalnya saja tahun 2024 lalu hanya ada 84 kuota.
Sedangkan, jumlah siswa SMA di Kota Batu mencapai ribuan.
“Itupun jurusan yang diambil juga terbatas. Hanya untuk jurusan-jurusan tertentu saja,” papar Anto.
Lebih lanjut, ia menyampaikan beasiswa itu hanya diberikan untuk siswa yang mengambil jurusan perhotelan dan pertanian saja.
Di luar itu, siswa tidak bisa mengajukan diri sebagai penerima beasiswa tersebut.
Dirinya menambahkan beasiswa itu hanya diberikan satu kali saja di awal penerimaan.
Untuk selanjutnya siswa akan melanjutkan pembiayaan secara mandiri.
“Kami berharap skema beasiswa untuk program seribu sarjana tidak menggunakan konsep yang sama,” tandasnya.
Menanggapi hal itu, Wali Kota terpilih Nurochman mengaku masih mendiskusikan terkait regulasinya.
Yang jelas, pihaknya tak hanya menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) saja.
Melainkan juga dengan menggandeng perusahaan.
Tujuannya untuk menggali potensi pendanaan melalui corporate social responsibility (CSR).
“Misalnya, kami rumuskan untuk uang kuliah tunggal (UKT) maksimal Rp 5-7 juta per semesternya,” paparnya.
Untuk jurusan yang diambil, tentu akan disesuaikan dengan potensi pembangunan dan peluang usaha di Kota Batu.
“Karena tujuan kami memang meningkatkan kualitas SDM lokal untuk membangun Kota Batu ke depan,” tutupnya. (ori/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana