Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Meninjau Kembali “Ruh” Pendidik di Era Modern

Kholid Amrullah • Jumat, 1 Mei 2026 | 22:13 WIB
Mukhammad Amin Tohari S.Ag., M.Pd. I
Mukhammad Amin Tohari S.Ag., M.Pd. I

 

Oleh: Mukhammad Amin Tohari S.Ag., M.Pd.I

Refleksi terhadap semangat Ki Hajar Dewantara bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan panggilan untuk meninjau kembali "ruh" kita sebagai pendidik di era modern.

1. Menanggalkan Ego, Mengutamakan "Sistem Among"

Refleksi terbesar dimulai dari perubahan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Ini adalah simbol penanggalan kasta dan ego demi menyatu dengan rakyat.

Sebagai pendidik, apakah kita masih memosisikan diri sebagai penguasa kelas yang haus dihormati, atau sudah menjadi "Pamong" yang menuntun kekuatan kodrat anak dengan penuh kasih sayang?

Mendidik dengan hati berarti memandang setiap murid sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar angka di dalam buku nilai.

2. Pendidikan sebagai Alat Perjuangan Bangsa

Terlihat jelas transisi beliau dari jurnalis nasionalis menjadi tokoh pendidikan. Beliau menyadari bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai melalui pendidikan yang memerdekakan batin.

Semangat Kebangsaan: Apakah pembelajaran yang kita berikan saat ini sudah menumbuhkan rasa cinta tanah air dan profil pelajar yang berkarakter Pancasila?.

Aksi: Mendidik dengan semangat kebangsaan berarti menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas untuk membangun Indonesia di masa depan.

3. Menghidupkan Kembali Trilogi Kepemimpinan

Semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Keteladanan: Di era digital, keteladanan seorang guru menjadi barang mewah. Kita ditantang untuk menjadi kompas moral bagi murid yang sedang mencari jati diri di tengah arus informasi.

Dukungan: Sudahkah kita memberikan ruang bagi murid untuk berekspresi (merdeka belajar) sembari tetap memberikan dorongan dari belakang agar mereka tidak kehilangan arah?.

4. Konsistensi dalam Pengabdian

Dari masa muda, pengasingan, hingga menjadi Menteri Pendidikan, Ki Hajar Dewantara menunjukkan konsistensi yang luar biasa.

Refleksi: Pendidikan adalah lari maraton, bukan sprint. Semangat mendidik dengan hati menuntut kesabaran ekstra saat menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.

Meneladani Ki Hajar Dewantara berarti sepakat bahwa tugas guru bukan sekadar "mengajar" (transfer ilmu), melainkan "mendidik" (transfer nilai). Mari kita jadikan setiap ruang kelas sebagai "Taman Siswa" yang menyenangkan, tempat di mana benih-benih kebangsaan tumbuh subur melalui siraman kasih sayang dan ketulusan hati.

Editor : Kholid Amrullah
#ki hajar dewantara #mukhammad amin tohari #kota malang #hari pendidikan nasional