Oleh: Nurochman
Hari-hari ini suasana umum di negara kita ada sedikit ketidaknyamanan. Di sejumlah daerah muncul aksi pembakaran gedung- gedung pemerintahan. Namun alhammdulillah di Kota Batu tetap aman dan tenang. Meskipun media sosial kita dipenuhi dengan berita berita yang berpotensi menimbulkan kelacauan dan perpecahan antar anak bangsa, semoga hal ini tidak terjadi di kota kita tercinta.
Oleh karena itu pada moment Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H hari ini kita jadikan momentum untuk ibstropeksi dan memperbaiki diri. Maulid Nabi bukan sekadar peringatan kelahiran seorang tokoh besar, tetapi merupakan momen reflektif yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Dalam konteks kebangsaan dan keagamaan, Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat dua pilar utama kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yaitu ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam) dan ukhuwah wathoniyah (persaudaraan dalam kehidupan kebangsaan).
Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad SAW telah memberikan teladan nyata dalam membangun masyarakat yang harmonis, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Di Madinah, beliau berhasil menyatukan berbagai kelompok dengan latar belakang suku, agama, dan budaya yang berbeda melalui Piagam Madinah. Inilah salah satu bukti nyata penerapan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyah yang relevan untuk dijadikan inspirasi dalam kehidupan berbangsa saat ini.
Sifat wajib rosul adalah siddiq, amanah, tabligh, fathonah yang juga harus bisa kita implementasikan dalam kepemimpinan, tokoh masyarakat, pemimpin pemerintahan khususnya sudah seharusnya bisa mentauladani dan mengimplementasikan sifat-sifat tersebut. Yakni berkata jujur dan amanah dalam mengemban tugas mulia dari rakyat, mampu menyampaikan kebenaran dengan akhlak mulia, dan pemimpin harus memiliki kecerdasan dan kepekaan sosial.
Birokrat harus segera bertransformasi, bahwa sesungguhnya kebijakan harus membawa dampak positif bagi masyarakat. Seorang birokrat juga sebaiknya low profil, moderat dan penuh kesederhanaan seperti uswah hasanah Rasul Muhammad SAW.
Di tengah dinamika sosial-politik dan perbedaan pandangan yang sering memicu gesekan antarkelompok, peringatan Maulid Nabi menjadi momen yang tepat untuk merekatkan kembali tali persaudaraan. Ukhuwah islamiyah bisa diperkuat melalui sikap saling menghargai dan tidak mudah menghakimi sesama umat Islam. Sementara ukhuwah wathoniyah dapat diwujudkan dengan memperkuat rasa cinta tanah air, menjaga toleransi antarumat beragama, dan bersama-sama merawat keutuhan bangsa di tengah keberagaman.
Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki tanggung jawab besar untuk menampilkan wajah Islam yang damai, ramah, dan inklusif. Nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah—seperti kejujuran, keadilan, kepedulian sosial, dan toleransi—seharusnya menjadi inspirasi dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.
Oleh karena itu, Maulid Nabi tidak seharusnya hanya diperingati secara seremonial melalui pengajian dan pembacaan sholawat. Lebih dari itu, Maulid Nabi adalah panggilan untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan momen ini sebagai sarana mempererat persaudaraan adalah bentuk nyata kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW dan kontribusi kita dalam menjaga keharmonisan bangsa.
Semua pihak perlu melakukan introspeksi diri, menghindari sikap merasa paling benar, dan menahan diri dari ucapan serta tindakan yang negatif dan merusak. Kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah rahmatan lil ‘alamin, yakni rahmat bagi seluruh alam. Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia seluruh umat manusia.
Secara khusus, kepada warga Kota Batu, mari jadikan peringatan Maulid Nabi ini sebagai kesempatan untuk memperkuat persaudaraan antar sesama. Jangan biarkan Kota Batu yang indah ini ternoda oleh aksi-aksi yang tidak bertanggungjawab. Kita semua memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kedamaian, ketertiban, dan keindahan kota ini. Jauhi pertengkaran, hindari tindakan anarkis, dan rawatlah kebersamaan. Dengan ukhuwah yang kuat, kita dapat menciptakan masyarakat yang damai, maju, dan diberkahi, baldatun toyyibatun wa robbun ghofur.
Penulis adalah Wali Kota Batu
Editor : Kholid Amrullah