JAKARTA, RADAR BATU- Usulan Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Nihayatul Wafiroh terkait penggunaan AI atau kecerdasan buatan sebagai solusi kekurangan dokter di Indonesia menuai respons dari ahli kebijakan kesehatan, dr. Dicky Budiman, Ph.D.
Dicky menyampaikan bahwa penerapan usulan tersebut harus ditempatkan secara proporsional. Menurutnya, kecerdasan buatan atau AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti peran dokter, melainkan hanya digunakan sebagai sistem pendukung dalam pengambilan keputusan klinis.
“Gagasannya inovatif tapi harus ditempatkan secara proporsional karena AI itu tidak boleh diposisikan sebagai pengganti dokter, tapi hanya sebagai sistem pendukung pengambilan keputusan klinis,” kata Dicky, Senin (29/6).
Baca Juga: Vonis Nadiem Makarim: 10 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar
Meski begitu, menurut Dicky AI dapat sangat membantu dalam menyiasati keterbatasan akses medis di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Di antaranya adalah membantu pemetaan triase awal oleh tenaga kesehatan, mempercepat hasil pembacaan rontgen dan EKG, identifikasi faktor risiko penyakit, serta menjembatani layanan telekonsultasi jarak jauh bersama dokter spesialis.
“Tapi, perlu ditegaskan diagnosis medis itu tidak sekadar mengenali pola penyakit. Diagnosis itu butuh anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik, pemahaman konteks sosial pasien, penilaian klinis dan juga tanggung jawab profesional. Semua proses itu, sampai saat ini dan ke depan tidak dapat digantikan oleh AI,” papar Dicky.
Sementara itu, pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut memberi respons terkait usulan penggunaan AI untuk mengatasi masalah kekurangan dokter di tanah air.
Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan (Menkes) menegaskan bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan atau AI tidak boleh mengalihkan fokus pemerintah dalam upaya menambah jumlah serta meratakan distribusi tenaga dokter di berbagai daerah.
"Saya rasa prioritas utamanya ke sana dulu (penambahan jumlah dan distribusi dokter). Kemudian nanti ditambah dengan telemedicine, AI, dan teknologi lainnya, tapi jangan sampai itu mengalihkan fokus kita untuk memperbanyak jumlah dokter dan mendistribusikan mereka ke daerah-daerah," kata Budi.
Menurutnya, langkah awal yang dapat diambil ialah dengan pemanfaatan layanan kesehatan jarak jauh atau telemedicine. Namun, ia menegaskan bahwa hal yang paling krusial untuk segera diselesaikan adalah krisis kekurangan tenaga dokter khususnya di wilayah terpencil.
Baca Juga: Al-Assad Bono: Kiper Spesialis Laga Besar
Sebagai informasi, sebelumnya Nihayatul Wafiroh, mempertanyakan soal potensi penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai solusi kekurangan dokter di Indonesia dalam rapat kerja mengenai perlindungan dan kesejahteraan tenaga medis dan tenaga kesehatan bersama Menkes Budi Gunadi Sadikin dan tenaga kesehatan di Jakarta, Kamis (25/6).
"Saya bukan orang medis, saya membayangkan mungkin sekarang ini kita banyak melihat banyak sektor yang sudah dibantu oleh AI. Bisa nggak ya, Pak, kira-kira di daerah-daerah tertentu yang mungkin ada tenaga medis dan sebagainya, yang mungkin bisa dibantu AI paling tidak untuk membantu pasien kita untuk menganalisis penyakit dan sebagainya? Untuk menjembatani saja," tanya Nihayatul.
Editor : Aditya Novrian