JAKARTA, RADAR BATU – Indonesia menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan kerja sama antar negara-negara ASEAN dan Australia. Kerja sama tersebut mencakup sejumlah sektor terkait pertukaran informasi, perlindungan pekerja migran, penindakan online scam hingga pemberantasan berbagai kejahatan transnasional lainnya.
Dukungan tersebut disampaikan dalam forum The 21st DGICM + Australia Consultation oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Imigrasi RI Hendrasam Marantoko bersama First Assistant Secretary (Immigration) Departemen Dalam Negeri Australia Damien Kilner yang berlangsung di Siem Reap, Kamboja.
Peningkatan fasilitas perbatasan menjadi salah satu fokus pembahasan utama dalam pertemuan tersebut.
Baca Juga: 1.000 Taruna Akmil Masuk Sekolah Rakyat, Anggota Komisi VIII DPR RI Beri 5 Catatan Tegas
Berdasarkan keterangan Hendrasam, pemerintah Indonesia berkomitmen kuat terhadap isu-isu tersebut. Sebagai langkah konkret, ia akan mengundang seluruh negara terkait untuk menghadiri pertemuan The 22nd DGICM + Australia Consultation yang dijadwalkan berlangsung di Bali, tahun 2027 mendatang.
Hendrasam menekankan pentingnya sinergi antara negara-negara anggota ASEAN dengan Australia dalam menjaga stabilitas kawasan.
“Kami harap forum ini dapat menjadi arah baru kemitraan ASEAN-Australia yang lebih solid dalam merespons dinamika perbatasan, dengan membangun kepercayaan mutual dan keterbukaan informasi," kata Hendarsam.
Ia juga menegaskan bahwa kesempatan berharga ini digunakan untuk mendongkrak sejumlah agenda prioritas.
Baca Juga: Sikat Jaringan Internasional, Wakabareskrim: Kami Kejar Sindikat Judi Online Sampai ke Akar
”Kami akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendorong agenda prioritas seperti secure information sharing, interoperabilitas data keimigrasian, ketahanan siber, data dan AI, perlindungan pekerja migran, serta kerja sama operasional melawan online scam, dan kejahatan transnasional,” kata dia, Minggu (28/6).
Pertemuan tersebut diadakan untuk memperkuat kerja sama imigrasi ASEAN-Australia, khususnya dalam pertukaran informasi, keamanan perbatasan, dan penanganan kejahatan lintas negara.
Ia berharap forum ini mampu menjadi Kompas untuk menunjukkan arah baru bagi kemitraan ASEAN-Australia agar semakin solid dalam merespons dinamika di wilayah perbatasan. Langkah tersebut, menurutnya, dapat dicapai melalui pembangungan rasa percaya antar negara serta keterbukaan informasi antarnegara anggota.
Baca Juga: Wamensos Agus Jabo: Setiap Sekolah Rakyat Akan Ditempatkan 5 Taruna TNI untuk Bimbing Kerapian
Hendarsam menyatakan Indonesia tengah menyusun standardisasi operasional keimigrasian yang lebih tangguh di perbatasan. Hal tersebut mencakup peningkatan fasilitas perbatasan, seperti peningkatan kemudahan akses fasilitas SmartGate di Australia yang sudah dimanfaatkan oleh WNI dan warga Brunei Darussalam.
Di samping itu, Indonesia turut memberi perhatian terhadap isu-isu yang disearakan Kamboja, Lao DPR, dan Filipina terkait tantangan keamanan, migrasi tidak teratur, perdagangan orang, penyelundupan manusia, dan maraknya modus penipuan daring.
Terkait tantangan digital, sektor pemanfaatan data dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi ranah kolaborasi baru yang resmi diinisiasi oleh pemerintah Singapura dan Australia.
Baca Juga: 53 Ribu Warga Mampu Terima Subsidi BPJS Kesehatan Kota Batu, Dinkes Temukan Salah Sasaran
"Teknologi ini ditargetkan untuk modernisasi layanan keimigrasian serta penguatan kapasitas penyaringan (screening) di pintu perbatasan," jelas dia.
Selain itu, pertemuan yang digelar ini menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan ASEAN-Australia Programme of Work periode 2026–2027 melalui serangkaian program penguatan kapasitas regional.
Hendrasam menilai bahwa program kerja tersebut relevan dengan dinamika kejahatan transasional yang tengah dihadapi kawasan saat ini.
”Kerja sama ASEAN-Australia penting untuk memperkuat kapasitas dan ketahanan kawasan dalam menghadapi perubahan pola migrasi, mobilitas tenaga kerja, kejahatan transnasional, penyelundupan manusia, perdagangan orang, dan penyalahgunaan kanal keimigrasian,” ujarnya.
Editor : Aditya Novrian