Kenapa Membalas Chat Terasa Melelahkan? Ini Penjelasan di Balik Conversation Fatigue

Aqila Sahira Dewi • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 08:00 WIB
Menatap layar penuh notifikasi bisa memicu decision fatigue, kondisi ketika otak kewalahan mengambil keputusan sekecil apa pun, termasuk sekadar membalas chat. (Pinterest)
Menatap layar penuh notifikasi bisa memicu decision fatigue, kondisi ketika otak kewalahan mengambil keputusan sekecil apa pun, termasuk sekadar membalas chat. (Pinterest)

RADAR BATUPernah menatap layar ponsel penuh pesan belum terbaca, lalu memilih menguncinya kembali dan berpura-pura tidak melihat? Fenomena ini punya nama, yaitu conversation fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak percakapan digital.

Menurut sejumlah kajian psikologi, kondisi ini muncul karena budaya hyper-connectivity yang membuat orang merasa harus selalu siap membalas kapan saja. Tekanan untuk merespons cepat inilah yang perlahan mengikis batas ruang privat seseorang.

Setiap notifikasi yang masuk sebenarnya menuntut serangkaian keputusan kecil, mulai dari apakah perlu dibalas, kapan waktu terbaik, hingga bagaimana cara meresponsnya agar tidak salah paham. Tumpukan keputusan kecil ini membuat otak mengalami decision fatigue.

Baca Juga: Andrew Garfield Malah Berhenti Pakai ChatGPT Setelah Main Film tentang AI

Penelitian dari University of California juga menunjukkan bahwa terlalu banyak notifikasi bisa meningkatkan stres dan kelelahan mental. Kondisi ini disebut digital overload, di mana otak cenderung menunda keputusan sederhana sekalipun, termasuk sekadar membalas pesan singkat.

Ada juga fenomena bernama Zeigarnik Effect, yaitu kecenderungan otak untuk terus mengingat tugas yang belum selesai lebih kuat dibandingkan dengan yang sudah tuntas. Pesan yang belum dibalas pun terasa seperti beban tertunda yang terus mengganggu pikiran meski sudah dibaca.

Selain faktor eksternal, kondisi psikologis pribadi juga berperan. Information anxiety terjadi saat otak kewalahan menerima terlalu banyak informasi sekaligus, sementara psychological resistance membuat seseorang enggan merespons karena menganggapnya sebagai beban.

Menariknya, kelelahan membalas chat ternyata bukan tanda seseorang tidak peduli. Ini lebih ke cara otak mengelola energi sosial yang terbatas, apalagi bagi mereka yang seharian sudah menghabiskan banyak energi untuk aktivitas lain.

Memahami hal ini penting agar orang tidak buru-buru menilai seseorang cuek hanya karena lambat membalas pesan. Memberi jeda sebelum merespons justru bisa jadi cara sehat untuk menjaga kondisi mental di tengah derasnya arus komunikasi digital.

 Baca Juga: Sudah Membalas Chat tapi dalam Hati, Ternyata Banyak Orang Mengalaminya

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
conversation fatigue digital overload psikologi kesehatan mental media sosial