Fenomena ini terlihat dari banyaknya diskusi di media sosial tentang pamali yang ternyata memiliki makna terkait etika, kesehatan, hingga keamanan. Anak muda kini cenderung mencari makna logis di balik pantangan tradisional daripada langsung mempercayai unsur mistisnya.
Salah satu contohnya adalah larangan bersiul di malam hari. Dulu, kebiasaan ini dipercaya dapat mengundang makhluk halus. Namun kini, banyak orang menganggap larangan tersebut lebih berkaitan dengan etika sosial karena suara siulan di malam hari dapat mengganggu lingkungan sekitar atau memancing perhatian orang asing di tempat sepi.
Baca Juga: Bapenda Kota Batu Berburu Setoran Pajak di Jalan Raya
Pamali menyapu di malam hari juga mulai dipahami secara rasional. Jika dulu dipercaya dapat membuang rezeki, sekarang dianggap sebagai kebiasaan yang kurang efektif karena pencahayaan malam membuat debu atau benda kecil sulit terlihat dan berisiko ikut terbuang.
Begitu pula dengan larangan duduk di depan pintu yang dahulu dikaitkan dengan sulit jodoh. Kini, anak muda melihatnya sebagai bentuk etika karena posisi tersebut dapat menghalangi jalan keluar masuk orang lain.
Tidak sedikit pamali yang ternyata berkaitan dengan kesehatan. Larangan makan sambil berdiri misalnya, kini dianggap kurang baik untuk pencernaan dan postur tubuh. Sementara larangan memotong kuku di malam hari diyakini muncul karena pada zaman dahulu pencahayaan masih minim sehingga berisiko melukai jari.
Baca Juga: Gunungan Sampah dan Polusi Rokok Kepung Alun-Alun Kota Batu
Perubahan cara pandang ini juga ramai muncul di media sosial, terutama TikTok. Salah satu akun yang sering membahas rasionalisasi mitos adalah akun TikTok @adrepuu. Melalui konten bernuansa komedi, akun tersebut sering mempertanyakan logika dan merasionalisasikan di balik cerita mistis yang selama ini dipercaya masyarakat.
Banyak anak muda mulai melihat mitos dan pamali sebagai bentuk kearifan lokal dan kontrol sosial yang diwariskan turun-temurun. Nilai moral dan aturan kehidupan yang dulu dibungkus dalam bentuk larangan mistis kini lebih diterima jika dijelaskan melalui logika, sains, maupun alasan kesehatan.
Meski begitu, sebagian generasi muda tetap memilih menghormati pamali sebagai bagian dari budaya dan tradisi keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa di era modern, pamali tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi mulai dipahami ulang agar lebih relevan dengan cara berpikir generasi sekarang.
Baca Juga: Pentingnya Digital Detox Bagi Pelajar, Ini Manfaatnya
Editor : Aditya Novrian