Fenomena ini umumnya dipicu rasa khawatir terhadap situasi tak terduga saat perjalanan. Banyak orang memiliki pola pikir “bagaimana kalau nanti butuh”, sehingga memilih membawa lebih banyak barang sebagai langkah berjaga-jaga.
Baca Juga: Resto Keluarga di Batu yang Cocok untuk Quality Time
Selain itu, bepergian ke tempat baru juga sering memunculkan rasa cemas. Membawa banyak barang dianggap dapat memberikan rasa aman dan nyaman karena seseorang merasa lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan selama perjalanan.
Kebiasaan overpacking juga sering terjadi karena kurangnya perencanaan. Tidak sedikit orang baru mulai berkemas pada malam sebelum keberangkatan, sehingga cenderung memasukkan barang secara asal tanpa memilah mana yang benar-benar penting.
Media sosial turut memengaruhi fenomena tersebut. Banyak orang ingin tampil maksimal di setiap foto liburan sehingga membawa berbagai pilihan outfit agar tidak terlihat sama di media sosial.
Akibatnya, koper diisi terlalu banyak pakaian yang sebenarnya tidak semuanya dipakai. Apalagi jika pakaian yang dibawa sulit dipadukan satu sama lain, jumlah barang bawaan biasanya menjadi lebih banyak.
Ukuran koper juga berpengaruh terhadap kebiasaan ini. Semakin besar koper yang digunakan, semakin besar pula dorongan untuk mengisinya hingga penuh.
Meski terlihat sepele, overpacking dapat membuat perjalanan terasa lebih melelahkan. Barang bawaan yang terlalu banyak membuat mobilitas menjadi kurang praktis dan meningkatkan risiko biaya bagasi tambahan saat bepergian.
Oleh karena itu, banyak orang kini mulai menerapkan konsep packing minimalis dengan membawa barang seperlunya serta memilih outfit yang mudah dipadu-padankan agar perjalanan terasa lebih ringan dan efisien.
Baca Juga: Konten Podcast Dapat Dimanfaatkan Pelajar untuk Menambah Pengetahuan di Luar Sekolah
Editor : Aditya Novrian