Fenomena ini terlihat dari banyaknya stasiun radio yang melakukan siaran on air sekaligus live di media sosial khususnya TikTok dan Instagram. Pendengar kini tidak hanya mendengar, tetapi juga bisa melihat langsung aktivitas penyiar di studio secara real time.
Tidak berhenti di situ, radio juga mulai aktif memproduksi konten digital. Cuplikan siaran, momen di balik layar, hingga konten promosi program dikemas lebih kreatif agar mudah dinikmati di media sosial.
Baca Juga: Distribusi Mandek, Harga Ayam di Kota Batu Tembus Rp 38 Ribu
Langkah ini dilakukan untuk mengikuti kebiasaan baru audiens, khususnya anak muda, yang lebih akrab dengan media sosail. Radio pun berupaya tetap hadir di ruang digital yang kini menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Selain memperluas jangkauan, kehadiran di media sosial juga membuat interaksi menjadi lebih intens. Pendengar dapat langsung memberikan komentar, merespons topik, hingga berinteraksi dengan penyiar.
Keunikan inilah yang membuat radio memiliki daya tarik baru, sehingga tetap bisa bertahan. Radio tidak lagi sekadar didengar saat berkendara, tetapi juga bisa dinikmati sebagai hiburan berbentuk visual di waktu senggang.
Perubahan ini juga memperluas jangkauan pendengar. Siaran radio yang sebelumnya terbatas oleh frekuensi kini bisa diakses oleh siapa saja melalui internet.
Di sisi lain, hadirnya media sosial membuat radio harus lebih kreatif dalam mengemas konten. Tidak hanya suara yang harus menarik, tetapi juga ekspresi, suasana studio, hingga interaksi penyiar menjadi bagian dari hiburan.
Dengan itu, radio kini tidak lagi hanya mengudara melalui suara, tetapi ikut beradaptasi ke ruang visual dengan tampil di layar dan mengikuti gaya hidup yang serba digital, sehingga dekat dengan keseharian audiens agar tetap relevan.
Baca Juga: Kejar Target Nasional 2026, Kemenag Batu Genjot Sertifikasi 311 Guru Madrasah
Editor : Aditya Novrian