Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Thrifting Naik Daun, Apakah Brand Lokal Kurang Worth It?

Parahita Ade Kumala • Kamis, 30 April 2026 | 04:00 WIB
Ilustrasi  kegiatan thrifting (sumber foto: freepik)
Ilustrasi kegiatan thrifting (sumber foto: freepik)
BATU, RADAR BATU – Tren thrifting atau membeli pakaian bekas layak pakai kian populer di kalangan anak muda sebagai bagian dari gaya hidup hemat dan sadar lingkungan.

Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya minat Gen Z terhadap fashion yang tidak hanya stylish, tetapi juga branded, terjangkau, dan unik.

Banyak anak muda kini berburu pakaian di thrift store, baik offline maupun online, untuk mendapatkan baju-baju yang unik, tetapi branded dengan harga lebih murah.

Selain faktor harga, thrifting juga dipandang sebagai solusi untuk mengurangi limbah industri fashion yang terus meningkat setiap tahunnya.

Baca Juga: Ketagihan Beli Blind Box, Hobi Baru Anak Muda yang Impulsif

Di sisi lain, tren ini memunculkan pertanyaan baru. Apakah meningkatnya minat terhadap thrifting membuat brand lokal menjadi kurang diminati?

Sebagian beranggapan produk thrift lebih worth it karena dengan budget terbatas, mereka bisa mendapatkan merek luar negeri dengan kualitas yang dianggap lebih baik.

Tidak sedikit pula yang menilai harga produk brand lokal cenderung overprice, terutama jika dibandingkan dengan barang thrift yang dianggap lebih murah dan memiliki label lebih baik.

Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena banyak brand lokal kini mulai berkembang dan mampu bersaing dari segi kualitas, desain, hingga kenyamanan.

Harga yang ditawarkan brand lokal umumnya juga dipengaruhi oleh biaya produksi, penggunaan bahan, serta skala usaha yang berbeda dengan brand besar internasional.

Brand lokal juga memiliki keunggulan dalam memahami karakter dan kebutuhan pasar Indonesia, sehingga produknya lebih relevan dengan gaya hidup anak muda saat ini.

Selain itu, membeli produk lokal berarti ikut mendukung pelaku usaha dalam negeri serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Sementara itu, thrifting tetap memiliki daya tarik tersendiri karena menawarkan pengalaman berburu barang yang unik dan tidak bisa ditemukan di toko biasa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan antara thrifting dan brand lokal bukan soal mana yang lebih unggul, melainkan soal kebutuhan, preferensi, dan cara pandang konsumen terhadap nilai sebuah produk.

Baik thrifting maupun brand lokal dapat menjadi pilihan tepat selama dilakukan secara bijak dan sesuai dengan kondisi diri masing-masing.

Baca Juga: Belajar Terus, Pemahaman Belum Maksimal? Siswa Perlu Kenali Gaya Belajarnya

Editor : Aditya Novrian
#Thrifiting #lifestyle