Di tengah rutinitas yang padat, banyak orang merasa waktu mereka habis untuk pekerjaan, kuliah, atau kewajiban lainnya. Akibatnya, malam hari justru dijadikan momen untuk menikmati waktu sendiri, meski harus mengorbankan waktu istirahat.
Baca Juga: Khawatir Ancam Sumber Air, Warga Sumberbrantas Protes Sumur Bor Milik Perusahaan Pertanian
Apa Itu Sleep Revenge Bedtime?
Fenomena ini merupakan kebiasaan menunda tidur demi melakukan aktivitas yang disukai. Biasanya diisi dengan scrolling media sosial, menonton, atau sekadar menikmati waktu santai sebelum tidur.
Kebiasaan ini dipengaruhi oleh algoritma media sosial yang terus menyajikan konten menarik secara berkelanjutan, membuat pengguna sulit berhenti meski waktu sudah larut malam.
Dari sisi psikologis, kebiasaan ini muncul sebagai bentuk kompensasi atas rasa kehilangan kontrol terhadap waktu di siang hari, di mana individu merasa tidak memiliki cukup ruang untuk diri sendiri.
Dampak yang Ditimbulkan
Meski terasa menyenangkan, kebiasaan ini berdampak pada kualitas tidur yang kian menurun. Kurangnya waktu istirahat dapat menyebabkan kelelahan berkepanjangan, menurunnya konsentrasi, hingga berpengaruh pada produktivitas dalam menjalani aktivitas keesokan hari.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi memicu gangguan kesehatan fisik maupun mental, termasuk stres dan penurunan daya tahan tubuh.
Untuk mengatasi fenomena ini, diperlukan kesadaran dalam mengatur waktu secara lebih seimbang, termasuk menetapkan batas penggunaan gawai di malam hari serta memprioritaskan kebutuhan istirahat.
Fenomena sleep revenge bedtime menjadi cerminan gaya hidup masa kini, di mana kebutuhan akan waktu pribadi sering kali berbenturan dengan tuntutan aktivitas, sehingga memunculkan dilema antara istirahat dan hiburan.
Baca Juga: Dapat Suntikan Rp580 Juta, KDMP di Batu Masih Kelimpungan Cari Pasar
Editor : Aditya Novrian