Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Bukan Tanpa Alasan, Ini Alasan Gen Z Enggan Menyalakan Centang Biru WhatsApp

Parahita Ade Kumala • Jumat, 24 April 2026 | 02:00 WIB
Ilustrasi seseorang berkomunikasi dengan hp (sumber foto: freepik)
Ilustrasi seseorang berkomunikasi dengan hp (sumber foto: freepik)

BATU, RADAR BATU – Fitur centang biru di WhatsApp diciptakan untuk memudahkan pengguna mengetahui apakah pesan sudah dibaca atau belum. Namun belakangan, tidak sedikit pengguna yang justru memilih mematikan fitur ini. Fenomena ini banyak ditemukan pada kalangan anak muda kususnya Gen Z yang memutuskan mematikan fitur ini untuk menjaga kenyamanan dalam berkomunikasi.

Bagi sebagian orang, centang biru mungkin terlihat sepele. Namun, bagi Gen Z fitur ini memunculkan beban tersendiri. Salah satu alasan yang mendasari Gen Z melakukan ini  adalah karena tekanan sosial yang muncul dari fitur tersebut. Ketika pesan sudah terbaca, secara tidak langsung ada ekspektasi untuk segera membalas. Situasi ini kerap membuat para Gen Z terburu-buru, bahkan saat mereka sedang tidak siap untuk merespons.

Baca Juga: Cetak SDM Unggul, Siswa SMKN 1 Batu Dilirik Industri Nasional Usai Berjaya di LKS Jatim

Dalam podcast di kanal YouTube Raymond Chin bersama bintang tamu Oza Rangkuti, ia sempat menyinggung fenomena ini. Bukan tanpa alasan, tapi karena Oza yang dikenal sebagai presiden Gen Z. Oza menyebut bahwa banyak Gen Z mematikan centang biru di whatsapp karena berkaitan dengan social energy. Artinya, tidak semua waktu dan kondisi memungkinkan seseorang untuk langsung membalas pesan, meskipun sudah membacanya. Ia menambahkan juga bahwa jika ingin membuat Gen Z panik dan ingin segera mendapat balasan, telepon saja langsung, karena menimbulkan situasi yang urgensi, sehingga mereka akan mengangkatnya.

Dengan mematikan centang biru, pengguna merasa memiliki kendali lebih atas waktu untuk membalas. Mereka bisa membaca pesan tanpa tekanan untuk langsung membalas. Ini menjadi semacam batasan digital agar komunikasi tidak terlalu menguras energi.

Fenomena ini juga berkaitan dengan kebutuhan akan privasi. Tidak sedikit orang yang ingin memiliki ruang personal di dunia digital, termasuk dalam hal kapan mereka memilih untuk merespons pesan. Centang biru, dalam beberapa situasi, justru dianggap mengurangi ruang tersebut.

Baca Juga: 806 Botol Miras Ilegal Disita di Karaoke Songgokerto, Kota Batu

Selain itu, banyak Gen Z yang merasa tersinggung dan overthinking ketika pesan mereka hanya dibaca tanpa dibalas. Untuk menghindari situasi tersebut, Gen Z lebih memilih untuk menonaktifkan fitur ini. Dengan begitu, tidak ada lagi asumsi atau ekspektasi yang muncul hanya karena tanda centang biru.

Menariknya, para Gen Z kadangkala menyalakan centang biru saat ada momen tertentu, seperti saat mengunggah status atau ketika berkomunikasi dengan orang penting, misalnya guru, dosen, atau urusan pekerjaan. Di luar itu, fitur tersebut kembali dimatikan.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola komunikasi di era digital. Kecepatan balasan tidak lagi selalu menjadi prioritas utama. Justru, kenyamanan dan kesiapan dalam membalas menjadi poin yang lebih diutamakan. Di sisi lain, kebiasaan mematikan centang biru bisa dilihat sebagai upaya menjaga batas antara kehidupan personal dan kehidupan luar yang terus-menerus.

Pada akhirnya, pilihan untuk menyalakan atau mematikan centang biru kembali pada preferensi pribadi. Namun yang jelas, fenomena ini menunjukkan bahwa cara berkomunikasi di era digital terus berkembang, seiring dengan kebutuhan manusia untuk tetap merasa nyaman dan memiliki kendali atas dirinya sendiri akan ruang pribadi.

Editor : Aditya Novrian
#mental health #Gen Z #WhattsApp