Padahal pohon-pohon tersebut dilindungi untuk menjaga mata air.
Komandan Regu Keamanan Kawasan Arboretum Angga Made mengatakan, untuk menjaga sumber air, ditanam beragam varietas tumbuhan penyerap air.
Beberapa di antaranya seperti bambu, kayu manis, dan pohon pinus.
“Kawasan Arboretum memiliki luas mencapai 600 hektar, sehingga banyak varietas tumbuhan yang ditanam di dalamnya. Utamanya 3 varietas tanaman penyerap air tersebut,” ucapnya pada koran ini, Jumat (5/1).
Meskipun termasuk wilayah konservasi yang dilarang untuk dikunjungi masyarakat umum, namun sepanjang 2023 pencurian kerap terjadi.
Pencurian tersebut menyasar pohon kayu manis. “
Harganya cukup mahal dan termasuk jenis rempah yang banyak dicari oleh masyarakat,” ungkap dia.
Pohon kayu manis juga termasuk tumbuhan langka.
Para pencuri tersebut biasanya mengambil kulit pohon kayu manis di lokasi-lokasi yang tidak umum dan sulit dijangkau.
Di kawasan konservasi seluas 600 hektar tersebut, ada 2 titik lokasi yang biasa disasar untuk melakukan aksi pencurian kulit pohon kayu manis.
Tanaman tersebut hidup dari getah yang terdapat di kulit pohonnya.
Karena itu, ia akan mati jika kulitnya diambil.
Kematian satu pohon di Arboretum akan berdampak pada lingkungan di sekitarnya.
Apalagi jika hal tersebut terus menerus dibiarkan.
Sampai saat ini, terdapat 500 pohon kayu manis berukuran besar di wilayah itu.
Sedangkan pohon kayu manis berukuran kecil ada 2.000 buah.
Angga melanjutkan, sepanjang 2023 terdapat 18 pohon yang dikuliti.
Biasanya para pencuri akan menguliti 1 sampai 2 pohon saja dalam sekali beraksi.
“Paling parah saat bulan April 2023 ketika agenda bersih desa. Saat itu ada 15 pohon yang dikuliti,” ungkapnya.
Mengetahui aksi pencurian yang makin meningkat penindakan tegas dilakukan dengan mengerahkan anggota kepolisian dan memperketat keamanan.
Angga berharap ke depannya masyarakat akan lebih peduli lagi akan kelestarian alam di kawasan konservasi.
“Saya harap masyarakat sadar kalo wilayah ini dilindungi dan dijaga. Jangan sampai ada perusakan lagi ke depannya,” pungkasnya.
(sif/lid)