MALANG KOTA - Fasilitas umum (fasum) di pusat perbelanjaan di Kota Malang tengah menuai sorotan tajam. Salah satu yang paling banyak dikeluhkan adalah keberadaan toilet berbayar. Kondisi ini memicu gelombang kritik dari masyarakat yang menilai standar pelayanan mal masih tertinggal dibanding kota besar lainnya.
Keriuhan ini bermula dari jagat media sosial X melalui akun @ngalamfess yang membahas kenyamanan fasum di Kota Malang. Banyak warganet menyayangkan kebijakan pengelola mal yang mematok tarif berkisar Rp1-2 ribu sekali masuk toilet. "Kamar mandi mal kok masih bayar, padahal kita sudah belanja di sana," tulisnya.
BACA JUGA Genjot Ekspor, Pemkot Batu Siapkan Pendampingan dan Bidik Pasar Asia Tenggara
Bukan hanya soal nominal, kini pengelola mal mulai menerapkan sistem pembayaran nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk akses toilet. Langkah ini justru dinilai terkesan memaksa pengunjung yang hanya ingin menggunakan fasilitas sanitasi secara cepat.
Keresahan itu dinilai wajar mengingat mal seharusnya memberikan pelayanan prima sebagai bagian dari fasilitas bagi konsumen. Bagi mahasiswa dan perantau, biaya tersebut jika terakumulasi dianggap mengganggu kenyamanan saat menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan.
BACA JUGA Shelter Korban Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Batu Tak Kunjung Dibangun
Salah seorang pengunjung mal Yulianda Refa mengaku kaget karena di kota lain seperti Surabaya atau Jakarta, akses toilet mal digratiskan. Menurutnya, masalah utama bukan terletak pada besaran tarif, melainkan pada prinsip kenyamanan fasum. "Mau bayar pakai QRIS untuk toilet rasanya terlalu berlebihan," imbuh dia.
Masyarakat berharap pengelola mal di Kota Malang bisa segera mengevaluasi kebijakan tersebut dan mengikuti standar mal besar di kota lain. Fasilitas sanitasi yang gratis dan aksesibel diharapkan bisa meningkatkan citra Kota Malang sebagai jujukan wisata belanja yang ramah pengunjung. (Sukma Fadilah/ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan