Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kisah Mahasiswa Myanmar Hein Htet Aung yang Menempuh Pendidikan di Kota Malang

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 15 Maret 2026 | 11:17 WIB
BANGGA: Hein Htet Aung berpose di depan bundaran Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu. (HEIN HTET AUNG FOR RADAR MALANG)
BANGGA: Hein Htet Aung berpose di depan bundaran Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu. (HEIN HTET AUNG FOR RADAR MALANG)

SUARA letupan senjata masih tersimpan jelas di kepala Hein Htet Aung. Bukan dari layar film. Bukan pula dari rekaman berita. Suara itu pernah menjadi latar kesehariannya di Myanmar. Dentuman terdengar nyaris tanpa jeda. Jalanan sering berubah menjadi arena ketegangan. Orang berlarian. Tentara berjaga dengan senjata teracung.

Sejak kudeta militer pada 2021, negaranya tak lagi terasa aman bagi banyak anak muda. Masa depan terasa kabur. Pilihan hidup menyempit. Hein ikut merasakan tekanan itu. Ia tumbuh di tengah suasana yang terus berubah. Ketidakpastian menjadi bagian dari rutinitas.

Banyak pemuda akhirnya memilih pergi. Sebagian menempuh jalur resmi. Lainnya mencari cara diam-diam. Risiko selalu mengintai. Namun, keluar dari Myanmar bukan perkara sederhana. Pemerintah militer membatasi perjalanan pemuda berusia 18 hingga 35 tahun. 

Banyak yang dipaksa tetap tinggal. Sebagian diarahkan mengikuti wajib militer. Sebagian lain sekadar bertahan di tengah konflik yang tak kunjung reda. Hein menemukan celah. Jalan keluar memang tidak selalu terbuka. Tetapi peluang selalu ada bagi yang berani mencoba.

“Kalau ada dolar, pintu bisa terbuka,” katanya pelan. Ia akhirnya berhasil meninggalkan negaranya. Langkah pertama membawanya ke Malaysia. Sebuah beasiswa sarjana menjadi jembatan awal. Mimpi berikutnya adalah melanjutkan pendidikan di Australia.

Namun harapan tersebut terhenti di meja imigrasi. Permohonan visanya ditolak. Bagi banyak orang, kegagalan seperti itu mungkin cukup untuk pulang. Hein tidak memiliki pilihan tersebut. Pulang berarti kembali ke bayang-bayang militer.

Ia lalu mencari arah baru. Peta tujuannya beralih ke Indonesia. Kota Malang menjadi titik yang dipilih. Sejak Agustus 2025, Hein resmi tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB).

Keputusan itu tidak diambil sembarangan. Ia sudah mempelajari reputasi kampus tersebut. Bidang teknik di universitas itu dikenal cukup kuat. Lingkungan akademiknya juga terbuka bagi mahasiswa asing. Faktor tersebut membuatnya mantap.

Malang kemudian terasa seperti tempat yang tepat. Kota itu tidak terlalu ramai. Namun cukup hidup bagi mahasiswa. Hein merasa menemukan ruang bernapas. Jalanan terasa lebih tenang. Tidak ada tentara yang berjaga di sudut kota. Tidak ada suara tembakan.

Suasana tersebut membuatnya cepat beradaptasi. Rasa rindu rumah tidak datang terlalu kuat. Ia mengaku menemukan banyak kesamaan budaya. Pola hidup masyarakat terasa akrab. Ritme harian tidak jauh berbeda.

Jika rindu keluarga datang, ia cukup membuka layar ponsel. Panggilan video menjadi penghubung dengan orang tuanya di Yangon. “Koneksi internetnya bagus. Jadi tetap bisa berbicara dengan keluarga,” ujarnya.

Kehidupan di Malang juga memberinya pengalaman baru. Salah satunya soal makanan.

Ada satu hidangan yang segera menjadi favorit. Semangkuk bakso hangat selalu berhasil membuatnya tersenyum.

Kuah panas. Daging bulat kenyal. Aroma kaldu terasa menenangkan. Bagi Hein, rasa itu mengingatkan pada rumah. Namun perjalanannya ke Malang bukan hanya tentang kuliah. Ia membawa misi yang lebih besar.

Hein ingin menunjukkan wajah lain Myanmar. Ia tidak ingin dunia mengenal negaranya lewat bayang-bayang militer. Menurutnya, masyarakat Myanmar memiliki karakter berbeda, yakni terbuka dan siap bekerja sama dengan siapa saja. (*/ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#Universitas Brawijaya (UB)