MALANG KOTA - Tekanan digitalisasi tidak sepenuhnya mematikan denyut pasar tradisional. Di Pasar Besar Malang, aktivitas jual beli tetap hidup meski platform e-commerce makin mendominasi pola konsumsi masyarakat. Menjelang Idul Fitri, keramaian di pasar terus meningkat.
Karyawan salah satu toko pakaian di pasar itu, Rafi mengatakan perubahan pola belanja mulai terasa sejak maraknya marketplace. Penjualan tidak lagi stabil seperti sebelumnya. “Omzet memang sempat turun karena banyak orang beralih ke belanja online,” ujarnya.
Momentum menjelang Lebaran menjadi periode paling dinanti pedagang. Jumlah pembeli biasanya meningkat meski belum sepenuhnya memulihkan penjualan. Rafi menyebut pemilik toko tempatnya bekerja masih enggan berpindah sepenuhnya ke platform digital.
Mereka masih mengandalkan pelanggan lama yang tetap memilih datang langsung ke pasar.
Interaksi tatap muka dinilai menjadi keunggulan yang sulit digantikan. Sebagian konsumen juga masih ingin memastikan kualitas barang sebelum membeli. Mereka merasa lebih yakin ketika dapat melihat dan menyentuh produk secara langsung.
Hal itu diakui Ulivia Wardatus, salah satu pembeli. Ia pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan saat berbelanja daring. Barang yang diterima tidak sesuai dengan gambar yang ditampilkan di aplikasi. “Kalau belanja langsung, kualitasnya bisa dilihat. Barang juga bisa langsung dibawa pulang,” katanya.
Alasan serupa disampaikan Mufidah, warga Bululawang. Ia mengaku tetap berbelanja di pasar karena lebih sederhana dan tidak membutuhkan aplikasi digital. Selain itu, pasar tradisional masih memberikan pengalaman yang tidak ditemukan di marketplace yakni tawar-menawar harga. “Kalau di pasar bisa nego sampai cocok,” tandasnya. (Sukma Fadilah/ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan