MALANG KOTA - Praktik joki skripsi semakin marak di kalangan mahasiswa di Kota Malang. Layanan tersebut kini beroperasi layaknya industri jasa profesional. Penyedia jasa menawarkan solusi cepat bagi mahasiswa yang tertekan menyelesaikan tugas akhir. Transaksinya bahkan dilakukan secara terbuka melalui media sosial.
Salah seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Kota Malang, Piter (bukan nama sebenarnya) mengaku menggunakan jasa joki sejak proses penulisan hingga menjelang sidang. Ia menemukan layanan tersebut dengan mudah melalui internet. “Awalnya coba-coba karena buntu saat bimbingan. Lama-lama keterusan sampai selesai,” ujarnya.
Ia mengaku membayar sekitar Rp1 juta untuk setiap bab. Baginya, jasa tersebut menjadi jalan pintas agar proses kelulusan tetap berjalan. Namun setelah wisuda, muncul rasa bersalah. Ia menyadari proses akademik yang seharusnya dijalani sendiri justru dialihkan kepada orang lain. “Kadang ada rasa tidak enak juga,” katanya.
Maraknya permintaan tersebut membuka peluang bisnis baru. Sejumlah penyedia jasa melihatnya sebagai pasar yang stabil. Salah satunya Agnes (bukan nama sebenarnya), penyedia jasa joki di Kota Malang. Ia mengatakan kliennya tidak selalu berasal dari mahasiswa yang malas.
Menurut dia, banyak mahasiswa sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang cukup. Namun mereka terjebak rasa cemas berlebihan ketika menghadapi penelitian dan bimbingan.
“Sebagian besar sebenarnya bisa. Mereka hanya tidak percaya diri,” ujarnya.
Selama proses pengerjaan, mahasiswa biasanya tetap terlibat dalam diskusi. Mereka bertanya mengenai metodologi, teori, hingga penyusunan analisis. Fenomena tersebut menunjukkan pergeseran fungsi joki. Tidak lagi sekadar penulis bayangan, tetapi juga menjadi pendamping akademik informal bagi mahasiswa yang kehilangan kepercayaan diri.
Pasar jasa ini tidak hanya menyasar mahasiswa sarjana. Mahasiswa program magister juga menjadi klien potensial, terutama mereka yang sudah bekerja. Menurut Agnes, banyak klien S2 datang dengan kerangka penelitian yang sudah disusun. Ia hanya membantu mengeksekusi penulisan.
“Tidak selalu dari nol. Kadang mereka hanya buntu di beberapa bagian,” ujarnya. Dari sisi tarif, jasa ini dipatok cukup tinggi. Untuk skripsi, biaya berkisar Rp4-5 juta per proyek. Sementara penulisan tesis bisa mencapai Rp10 juta. Menariknya, permintaan terbesar justru datang dari mahasiswa jurusan komunikasi dan rumpun sosial humaniora.
Besarnya biaya itu juga mencerminkan kompleksitas pekerjaan. Penyedia jasa harus menyesuaikan tulisan dengan gaya bimbingan dosen. Agnes mengaku harus mempelajari karakter dosen pembimbing setiap klien. Biasanya mahasiswa mengirimkan contoh skripsi senior yang telah lulus. Dari dokumen itu, ia mempelajari pola penulisan yang disukai dosen.
“Masing-masing dosen punya gaya berbeda,” ujarnya. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) sempat mengganggu bisnis joki. Sebagian mahasiswa mencoba memanfaatkan teknologi tersebut untuk menulis tugas akhir secara mandiri. Namun menurut Agnes, celah tetap terbuka. Tulisan AI sering dianggap terlalu kaku oleh dosen.
Akibatnya, mahasiswa yang gagal menggunakan AI kembali mencari jasa joki untuk memperhalus struktur tulisan. Fenomena ini menjadi peringatan bagi perguruan tinggi. Maraknya jasa joki menunjukkan masih adanya persoalan dalam sistem bimbingan akademik. (Rolianus Ferdi Onggur/ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan