BATU, RADAR BATU - Penggunaan pestisida nabati (pesnab) dan pupuk organik cair (POC) mandiri sukses memangkas biaya produksi pertanian hingga 40 persen. Langkah efisiensi ini diambil petani Kota Batu guna menyiasati lonjakan harga obat kimia di pasaran. Formula alami tersebut sekaligus menjadi jawaban konkret mengatasi tingginya tingkat resistensi hama lahan.
Inovasi ini dipelopori Heru Sutomo, Ketua Kelompok Tani Sri Sedono 05 Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo. Heru meracik ramuan organik sejak 2023 karena resah melihat hama semakin kebal obat pabrikan. Racikan bernama Sri Kresna tersebut terbukti ampuh menyembuhkan daun tomat keriting akibat serangan hama parah.
BACA JUGA: Ketua Komisi IV DPR RI Apresiasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan Nasional
Heru memanfaatkan tumbuhan lokal kaya bahan aktif alami seperti bintaro, bawang putih, dan serai wangi. Pembuatan enam liter formula pesnab hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 100 ribu. Tanaman sakit biasanya sembuh total setelah 2-3 kali penyemprotan rutin. “Kimia tetap dibutuhkan. Fungsinya bukan digantikan melainkan diselingi agar tanah punya waktu bernapas,” jelas Heru.
Manfaat serupa dirasakan Suliono, petani apel asal Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji. Ia konsisten beralih mengombinasikan pesnab dan POC mandiri di kebunnya sejak satu tahun terakhir. Langkah ini terbukti efektif menyelamatkan kas operasional petani. “Penggunaan pesnab dan POC organik sangat membantu. Langkah ini bisa memotong biaya produksi sekitar 30 sampai 40 persen,” ungkap Suliono.
BACA JUGA: Slot Babak 32 Besar Kian Menipis, AS, Meksiko, dan Jerman Berhasil Amankan Posisi Duluan
Ia meracik pesnab menggunakan akar tuba, air hujan, gadung kuning, mimba, daun mindi, dan bintaro. Efek ramuan alami bekerja mengusir hama perlahan tanpa merusak ekosistem tanah. Menariknya, POC mandiri ini juga mampu menyuburkan kembali tanaman kerdil.
Geliat dari bawah tersebut mendapat apresiasi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno. Perlakuan organik dinilai sangat diperlukan untuk menyelingi penggunaan bahan kimiawi di lapangan. “Ketergantungan pestisida kimia berlebihan membuat struktur tanah mengeras. Inovasi petani ini sangat baik menyelingi penggunaan kimiawi,” puji Hendry.
Keberhasilan kelompok tani kini memikat perhatian kalangan akademisi. Sejumlah peneliti Universitas Brawijaya mulai turun ke lapangan mendata komoditas organik tersebut. Mereka meneliti lebih dalam kandungan ilmiah formula pesnab buatan petani Batu. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan