BATU, RADAR BATU - Fenomena El Nino diprediksi membawa cuaca ekstrem ke kawasan pegunungan Kota Batu pada pertengahan hingga akhir tahun ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi lonjakan titik api serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai Agustus 2026 akibat minimnya curah hujan dan tutupan awan.
Kondisi tersebut diperparah dengan karakteristik geografis Kota Batu yang dikelilingi kawasan pegunungan dan vegetasi mudah terbakar.
Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Ahmad Luthfi menjelaskan, indikator El Nino saat ini memang masih berada pada level moderat.
Namun, dampaknya diprediksi mulai terasa kuat pada semester kedua tahun ini.
“Potensi titik api diperkirakan meningkat signifikan mulai Agustus saat kelembapan udara menurun dan tutupan awan semakin sedikit,” ujar Luthfi.
BACA JUGA: Playlist Galau Jam 2 Pagi Masih Jadi Andalan Anak Muda Buat Overthinking
Selain ancaman karhutla, masyarakat juga diminta mewaspadai fenomena cuaca bediding yang biasa muncul pada Juni hingga September.
Suhu udara di pagi hari diprediksi terasa sangat dingin, namun berubah menjadi panas menyengat saat siang hari.
Menurut BMKG, puncak suhu panas diperkirakan terjadi pada Oktober mendatang.
Meski demikian, lonjakan suhu di Kota Batu diprediksi tidak akan mencapai level ekstrem hingga naik 4 sampai 5 derajat Celsius seperti sejumlah wilayah lain di Indonesia.
BACA JUGA: Tak Perlu Mewah, Tempat Makan Rumahan di Kota Batu Ini Justru Selalu Ramai Pembeli
“Karakter cuaca Kota Batu cukup kompleks karena berada di kawasan pegunungan, sehingga fluktuasinya berbeda dengan daerah dataran rendah,” jelasnya.
BMKG meminta masyarakat tidak meremehkan ancaman kebakaran hutan meski Kota Batu dikenal berhawa dingin dan lembap.
Luthfi mencontohkan kasus kebakaran besar Gunung Arjuno pada 2023 yang membuktikan kawasan pegunungan tetap sangat rentan terbakar saat musim kemarau panjang.
BACA JUGA: Sita 9 Kotak Jam Tangan Mewah Fadia Arafiq, KPK Periksa Pihak Penjual
“Kita harus belajar dari kebakaran Gunung Arjuno. Kawasan yang biasanya basah dan adem pun bisa terbakar hebat kalau lengah,” tegasnya.
Ancaman tersebut turut menjadi perhatian serius BPBD Kota Batu. Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho menyebut pengalaman karhutla 2019 menjadi alarm paling serius bagi pemerintah daerah.
Kala itu, sekitar 400 hektare kawasan hutan dilaporkan hangus terbakar. Dampaknya tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga memicu banjir bandang pada tahun-tahun berikutnya akibat rusaknya kawasan resapan air.
BACA JUGA: Spot Wisata Estetik di Batu yang Cocok untuk Foto-foto
“Karhutla 2019 jadi salah satu yang paling parah. Itu yang sekarang kami antisipasi agar tidak terulang,” ujar Gatot.
BPBD kini mulai memetakan kawasan rawan dan menyiapkan patroli intensif bersama Perhutani serta relawan desa penyangga hutan.
Pemerintah daerah juga mulai menyiapkan skenario distribusi air bersih apabila kekeringan meluas saat puncak kemarau tiba. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan