BATU, RADAR BATU - Fenomena cuaca ekstrem diprediksi melanda kawasan Malang Raya, termasuk Kota Batu, mulai pertengahan tahun ini.
Selain ancaman musim kering panjang akibat El Nino, masyarakat juga diminta mewaspadai fenomena bediding yang membuat suhu berubah drastis antara pagi dan siang hari.
Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Ahmad Luthfi mengatakan, periode Juni hingga September akan ditandai udara dingin menusuk pada pagi hari dan panas terik saat siang.
BACA JUGA: Rekomendasi Wahana Seru di JTP 3 untuk Liburan Bareng Keluarga
“Fenomena bediding ini memang khas musim kemarau di wilayah pegunungan seperti Kota Batu,” ujarnya.
BMKG memperkirakan puncak suhu panas terjadi pada Oktober mendatang. Namun, kenaikan suhu di Kota Batu diprediksi tidak seekstrem wilayah lain karena dipengaruhi karakter topografi pegunungan.
“Wilayah Batu cukup kompleks karena dikelilingi banyak gunung, sehingga pola cuacanya berbeda,” jelas Luthfi.
Meski begitu, BMKG tetap mengingatkan potensi meningkatnya titik api di kawasan hutan selama musim kemarau berlangsung.
Kondisi minim awan dan turunnya kelembapan udara membuat vegetasi lebih cepat mengering dan rawan terbakar.
Luthfi meminta masyarakat tidak lengah, terutama setelah pengalaman kebakaran besar di kawasan Gunung Arjuno pada 2023 lalu.
BACA JUGA: Teman Nongkrong Paling Pas, Rekomendasi Pisang Keju di Batu dengan Topping Melimpah
“Kawasan yang biasanya dingin dan lembap pun ternyata bisa terbakar hebat jika kondisi cuaca ekstrem dan ada kelalaian manusia,” katanya.
Sementara itu, BPBD Kota Batu mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BACA JUGA: Wisata Adventure di Kota Batu yang Wajib Dicoba Pecinta Adrenalin
Zona rawan di kawasan pegunungan kini dipetakan untuk mengantisipasi potensi kebakaran besar saat musim kemarau mencapai puncaknya.
Meski ancaman kekeringan meningkat, pemerintah memastikan pasokan air bersih warga Kota Batu masih relatif aman dan belum masuk kategori darurat krisis air. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan