BATU, RADAR BATU - Pemerintah Kota Batu mulai membongkar persoalan klasik pengelolaan sampah dari sektor hilir. Sebanyak 135 ribu ton tumpukan sampah lama di TPA Tlekung akan diurai menggunakan metode landfill mining.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar menuju target Zero Waste City 2028. Selain mengurangi beban lingkungan, program ini juga ditargetkan memulihkan sekitar dua hektare lahan yang selama ini tertimbun sampah.
Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni Kurniawan, menyebut lahan yang telah direklamasi akan dimanfaatkan sebagai kawasan produktif.
“Lahan tersebut akan dikelola warga menjadi perkebunan produktif,” ujarnya.
Baca Juga: Kota Batu Bidik Zero Waste 2028, Siapkan Dana Rp100 Miliar dari Bank Dunia
Di sisi hulu, berbagai inovasi juga mulai dijalankan. Salah satunya pengoperasian sistem bio-digester di Pasar Induk Among Tani untuk mengolah sampah organik secara mandiri.
Pemkot juga mendorong penguatan pengelolaan di tingkat komunal, termasuk penanganan sampah dapur dan limbah dari program SPPG.
Selain itu, DLH tengah mencari offtaker untuk menyerap hasil produksi dari 16 rumah kompos agar sampah organik memiliki nilai ekonomi.
Secara regional, Kota Batu juga terlibat dalam kerja sama Malang Raya melalui program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Saat ini, Batu mengirim sekitar 38,09 ton sampah per hari dan ditargetkan meningkat hingga 70 ton per hari.
“Kunci Zero Waste ada pada pengurangan di sumber. Jika hulu selesai, beban hilir akan jauh berkurang,” jelas Dian.
Melalui kombinasi strategi hulu dan hilir, Pemkot Batu berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan sekaligus bernilai ekonomi. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho