BATU, RADAR BATU - Keterbatasan anggaran tak menghentikan aksi sosial lintas agama di Kota Batu. Para penyuluh agama tetap rutin membersihkan rumah ibadah di berbagai wilayah, terutama menjelang hari besar keagamaan kendati tanpa anggaran khusus.
Kegiatan ini digerakkan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Batu. Aksi dilakukan secara bergilir dan terjadwal, menyasar berbagai rumah ibadah lintas agama.
Kepala Kantor Kemenag Kota Batu Moh. Zainal Arifin mengatakan kegiatan itu menjadi inisiatif para penyuluh di lapangan.
BACA JUGA: Sempat Langka, Stok LPG 3 Kg Kembali Normal
“Terjadwal rutin dan dilaksanakan oleh teman-teman IPARI,” ujarnya. Fokus kegiatan adalah kerja bakti membersihkan rumah ibadah. Mulai dari musala, masjid, gereja, vihara, hingga klenteng. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama. Kegiatan masih terbatas pada aksi bersih-bersih tanpa dukungan pembiayaan tambahan.
“Anggaran khusus tidak tersedia, jadi kami fokus pada kegiatan yang bisa dilakukan secara swadaya,” kata Zainal. Di Kota Batu, terdapat 23 penyuluh agama. Terdiri dari 17 penyuluh Islam, 4 Kristen, dan 2 Buddha. Mereka terlibat aktif dalam kegiatan sosial lintas iman ini.
BACA JUGA: Seorang Pengacara, Polisi Periksa Majikan Dua PRT yang Lompat dari Bangunan Lantai Empat
Sekretaris IPARI Kota Batu Suwono menjelaskan kegiatan disesuaikan dengan momentum keagamaan. Setiap perayaan menjadi titik masuk untuk aksi bersama. “Menjelang Ramadan kami bersih-bersih musala, menjelang Nyepi kami ke pura,” jelasnya.
Para penyuluh hadir secara sukarela. Mereka membawa perlengkapan sederhana seperti sapu, pel, dan alat kebersihan lainnya. Beberapa kegiatan telah dilakukan. Di antaranya kerja bakti membersihkan dan mengecat musala di Desa Giripurno saat awal Ramadan.
Selain itu, pembersihan pura di Tulungrejo dilakukan menjelang Nyepi. Agenda berikutnya menyasar peringatan Hari Raya Waisak. Kegiatan akan difokuskan di vihara, serta dilanjutkan ke rumah ibadah lain seperti klenteng, gereja, dan musala.
Program ini tidak sekadar menjaga kebersihan. Lebih dari itu, menjadi ruang membangun solidaritas lintas agama. “Kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan untuk saling mendukung,” pungkas Suwono. (dia/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan