BATU, RADAR BATU - Suasana pagi di Car Free Day (CFD) Mbatu Sae selalu punya daya tarik tersendiri bagi warga Kota Batu. Selain untuk berolahraga, wisata kuliner menjadi magnet utama. Salah satu lapak yang nyaris tak pernah sepi dari antrean adalah jajanan tradisional.
Baru saja lapak dibuka, kerumunan pembeli langsung menyerbu. Tak butuh waktu lama bagi antrean untuk memanjang hingga beberapa meter ke belakang. Barisan yang mengular tersebut tak kunjung putus hingga dagangan ludes.
BACA JUGA: 226 CJH Siap Terbang ke Tanah Suci, Satu Jemaah Sempat Cedera tapi Masih Berpeluang Berangkat
Solikatin, sang penjual jajanan tradisional tersebut mengakui keramaian pembeli selalu terjadi setiap pekan. Tak hanya orang dewasa, anak-anakpun juga ikut mengantre. “Baru buka jam 06.00 sudah rame, itupun jam 09.00 sudah habis,” bebernya.
Kontras dengan durasi memasaknya. Setiap minggu, Sol, sapaan akrabnya, selalu bersiap sejak pukul 02.00 dan baru selesai sekitar pukul 06.00. Waktu empat jam itu untuk memasak 13 jenis jajanan pasar seperti cenil, lupis, klepon, ongol-ongol, gethuk, gatot, hingga ketan.
Semua dia buat secara manual seorang diri. Tak heran bila makanan tradisional buatannya terasa otentik. Apalagi, Sol hanya menjual satu minggu sekali di CFD Mbatu Sae. Hal itulah yang dinilainya menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli. “Sekarang memang jarang yang jual, makanya setiap jualan saya selalu ludes,” ujar wanita asal Temas itu.
BACA JUGA: Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (20)
Hal itupun diamini salah seorang pengunjung Sriyati. Hampir setiap pekan ke CFD Mbatu Sae, dia tak pernah absen membeli jajanan tradisional. “Antrenya memang lama, tapi ya sepadan karena jajanan tradisional susah dicari,” katanya.
Editor : Fajar Andre Setiawan