Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Bumiaji Disulap Jadi Wisata, Akademisi UM Sebut Menyimpang dari Tata Ruang

Rori Dinanda Bestari • Rabu, 8 April 2026 | 13:30 WIB
KIAN TERKIKIS: Lahan pertanian di Kota Batu kian terkikis. RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU
KIAN TERKIKIS: Lahan pertanian di Kota Batu kian terkikis. RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU

 

BATU, RADAR BATU - Pergeseran arah pembangunan di Kota Batu kembali disorot akademisi. Kawasan Bumiaji yang seharusnya menjadi zona agroindustri dan konservasi kini dinilai mulai bergeser menjadi wilayah wisata buatan.

Dosen Pariwisata Universitas Negeri Malang, Elya Kurniawati, menilai perubahan tersebut tidak sejalan dengan konsep tata ruang yang telah dirancang sejak awal.

“Kawasan utara seperti Bumiaji itu untuk agrowisata, bukan wisata buatan berskala besar,” tegasnya.

BACA JUGA: Coffee Morning Diboyong ke Bumiaji, Cak Nur Ajak OPD Soroti Masalah Lingkungan

Ia menjelaskan, pembagian wilayah di Kota Batu sebenarnya sudah jelas. Wilayah utara difokuskan pada sektor agro dan konservasi, sementara pengembangan hotel dan taman rekreasi dipusatkan di wilayah selatan.

Namun, masuknya investasi wisata buatan ke kawasan utara dinilai berisiko merusak keseimbangan lingkungan.

Menurut Elya, kondisi geografis Bumiaji yang memiliki kemiringan lahan tinggi membuat wilayah tersebut rentan terhadap bencana.

BACA JUGA: RTRW Disorot! Lahan Hijau Menyusut, Zona Wisata Melejit, Kota Batu Terancam Bencana

Pembangunan berbasis beton di kawasan tersebut justru memperbesar risiko banjir dan longsor.

“Banjir yang terjadi menjadi peringatan bahwa daya dukung lingkungan terbatas,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya konsistensi terhadap rencana tata ruang sebagai acuan utama pembangunan daerah.

BACA JUGA: TKA SMP Digelar, Satu Sekolah di Kota Batu Masih Menumpang

Evaluasi menyeluruh terhadap izin pengembangan wisata di wilayah hulu dinilai mendesak dilakukan agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah.

“Jangan hanya mengejar angka kunjungan, tapi abaikan dampak jangka panjang,” tegasnya.

Akademisi berharap pemerintah segera melakukan kajian ulang secara transparan terhadap arah pembangunan yang ada saat ini.

BACA JUGA: Tebing 10 Meter di Jalur Payung Ambrol

Tanpa langkah korektif, Kota Batu dikhawatirkan akan menghadapi konsekuensi serius berupa krisis lingkungan yang berdampak langsung pada keselamatan masyarakat. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#alih fungsi lahan #pakar akademisi #wisata buatan #tata ruang #Bumiaji