Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (5): Menuai Karma dari Pupuk Kimia

Zanadia Manik Fatimah • Jumat, 3 April 2026 | 13:30 WIB
DISEMPROT: Salah seorang petani di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji menyemprotkan pestisida di lahan miliknya beberapa waktu lalu.
DISEMPROT: Salah seorang petani di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji menyemprotkan pestisida di lahan miliknya beberapa waktu lalu.

 

Puluhan tahun pupuk kimia dan pestisida menjadi penopang pertanian hortikultura di Kota Batu. Hasil panen memang pernah melonjak. Namun penggunaan jangka panjang meninggalkan persoalan baru. Struktur tanah berubah, kesuburan menurun, dan biaya produksi kian membengkak.

ZANADIA MANIK FATIMAH

Kabut tipis menggantung di antara hamparan ladang kentang, wortel, dan kubis yang membentang di lereng pegunungan di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji. Pemandangan hijau itu telah lama menjadi wajah pertanian Kota Batu. Dari ladang-ladang hortikultura inilah ribuan warga menggantungkan hidup.

Kentang, kubis, wortel, hingga sayur mayur lain mengalir ke berbagai pasar di Jawa Timur. Namun di balik kesuburan lanskap itu, ada cerita yang jarang terlihat. Tanah yang selama puluhan tahun dipacu dengan pupuk kimia kini mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

BACA JUGA: Tanggapi Kasus Amsal Sitepu, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumut Sampaikan Permohonan Maaf

Sejak lama petani hortikultura di Kota Batu bergantung pada pupuk pabrikan. Racikan seperti NPK, ZA, KCl, SP-36, dan urea menjadi menu wajib setiap musim tanam. Penggunaan pupuk tersebut semakin masif sejak sekitar 2010-2011.

Saat itu hasilnya memang terasa menjanjikan. Tanaman tumbuh lebih cepat. Ukuran hasil panen lebih seragam. Produksi meningkat. Pendapatan petani ikut terdongkrak. Pada periode yang sama, harga pupuk nonsubsidi juga masih relatif terjangkau. Petani dapat membeli dalam jumlah besar tanpa tekanan biaya yang berarti.

BACA JUGA: Feeding Penguin Humboldt di Eco Active Park Jadi Daya Tarik Baru Wisata Kota Batu

Namun waktu berjalan. Tanah perlahan berubah. Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus memengaruhi keseimbangan unsur hara. Struktur tanah menjadi lebih padat. Mikroorganisme alami berkurang. Tingkat keasaman tanah juga ikut berubah.

Dampaknya mulai terasa beberapa tahun terakhir. Daya serap air menurun. Tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Produktivitas lahan pun tidak lagi setinggi dulu. Mazidhah Aan Dwi Ansori memahami proses perubahan itu dengan jelas.

BACA JUGA: Tekan Rasio Belanja Pegawai lewat Optimalisasi PAD, DPRD Minta Pemkot Sasar Wajib Pajak Potensial

Penyuluh pertanian Desa Sumberbrantas tersebut telah mendampingi petani sejak awal dekade 2010-an. Ia ingat betul bagaimana sulitnya mengajak petani mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. “Dulu banyak yang ingin serba cepat. Tidak mau ribet dan sulit menerima ilmu baru,” ujarnya.

Sebagai penyuluh muda saat itu, Aan bahkan kerap mendapat cibiran. Petani lapangan lebih percaya pada pengalaman mereka sendiri. Selama hasil panen masih tinggi, pupuk kimia dianggap tidak bermasalah. Namun kondisi berubah dalam beberapa tahun terakhir. Harga pupuk nonsubsidi melonjak tajam.

BACA JUGA: Belanja Pegawai Tembus 37 Persen, Pemkot Batu Andalkan PAD untuk Tekan Rasio Tanpa Pangkas ASN

Sementara, pupuk subsidi hanya dialokasikan untuk sembilan komoditas tertentu. Sebagian besar tanaman hortikultura tidak termasuk dalam skema tersebut. Akibatnya petani harus membeli pupuk dengan harga pasar.

Lonjakan harga semakin terasa sejak konflik Rusia dan Ukraina pecah. Perang itu memicu gangguan pasokan bahan baku pupuk di pasar global. Banyak bahan pupuk kimia masih bergantung pada impor. “Kenaikan paling terasa sekitar 2021,” kata Aan.

BACA JUGA: Destinasi Wisata Wajib Ramah Disabilitas dan Minim Polusi, Pakar Pariwisata UM: Jangan Sekadar Indah

Pada saat yang sama, kondisi tanah mulai menunjukkan penurunan kualitas. Hasil panen tidak lagi setinggi sebelumnya. Dalam situasi itu, upaya memperkenalkan pertanian yang lebih ramah tanah mulai dilakukan.

Aan mencoba mengenalkan pupuk organik sejak awal bertugas. Namun prosesnya tidak mudah. Petani membutuhkan waktu untuk percaya. Sosialisasi yang dimulai sejak 2010 baru mulai diterima sekitar 2014. Saat itu program sekolah lapang pertanian mulai digencarkan.

Dari situ, perlahan muncul kesadaran baru. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah penggunaan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Bakteri ini hidup di sekitar akar tanaman. Fungsinya membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman sekaligus memperbaiki kesehatan tanah.

BACA JUGA: DPRD Soroti Kebocoran PAD, Pajak Vila hingga Parkir Jadi Target Baru Dongkrak Pendapatan Batu

Penggunaan PGPR juga mampu meningkatkan penyerapan unsur hara serta memperkuat ketahanan tanaman terhadap penyakit. Meski demikian, perubahan sistem budidaya tidak bisa berlangsung cepat. Hingga kini pupuk kimia dan pestisida masih menjadi bagian penting dalam praktik pertanian hortikultura.

Pengurangan hanya bisa dilakukan secara bertahap. Selain persoalan kesuburan tanah, faktor biaya juga menjadi tekanan besar. Untuk menanam kentang di lahan seluas satu hektare dalam satu musim tanam, petani membutuhkan modal sekitar Rp80 juta hingga Rp90 juta. Sebagian besar biaya tersebut terserap untuk pestisida.

BACA JUGA:  Harga Bahan Pokok di Kota Batu Mulai Turun Pasca-Lebaran

Jika masih mengandalkan produk pabrikan, pengeluaran untuk pestisida saja bisa mencapai Rp25-30 juta per hektare per musim. Biaya tersebut bisa ditekan jika petani mampu meracik fungisida sendiri. Dengan metode itu, pengeluaran bisa turun menjadi sekitar Rp20 juta per hektare. Namun tidak semua petani memiliki kemampuan meracik pestisida alternatif.

Masudi, petani hortikultura asal Sumberbrantas, mengakui biaya produksi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Terutama ketika cuaca ekstrem datang. “Kalau serangan penyakit tinggi, bisa habis Rp70 juta per hektare per musim hanya untuk obat,” ujarnya.

BACA JUGA: Walhi Soroti Krisis Tata Ruang Bumiaji Penyebab Banjir Luapan

Cuaca yang tidak menentu membuat serangan hama dan penyakit lebih sering terjadi. Akibatnya penggunaan pestisida semakin intensif. Di titik inilah dilema petani muncul. Di satu sisi mereka ingin menjaga produktivitas lahan agar tetap menghasilkan. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia dan pestisida terus mempercepat degradasi tanah.

Petani seperti berada di persimpangan panjang. Mereka harus memilih antara mempertahankan hasil panen hari ini atau menjaga kesuburan tanah untuk masa depan. Pilihan yang tidak pernah benar-benar mudah. (*/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#pupuk kimia #pertanian #kota batu