BULUKERTO, RADAR BATU - Pemilik kandang yang enggan disebut identitasnya mengaku telah sering mendengar keluhan warga sekitar. Namun, ia tak punya lahan lain untuk membangun kandang baru. “Kami juga menjadikan ternak ini sebagai sampingan,” ungkapnya.
Ia menyebut awalnya hanya memelihara satu ekor babi pada 2007 silam. Aktivitas ternak yang ia lakukan saat itu hanya sekadar hobi. “Tahun 2021 terkena banjir bandang dan sempat tak punya kandang, kemudian setelah itu kami punya tiga babi” ungkapnya.
Kini jumlah babi di sana mencapai sekitar 14 ekor yang didominasi anakan. Sebab, ada beberapa ekor babi anakan yang baru saja lahir. Beberapa babi usia dewasa awal akan dijualnya, terutama saat membutuhkan uang.
BACA JUGA: Tekan Rasio Belanja Pegawai lewat Optimalisasi PAD, DPRD Minta Pemkot Sasar Wajib Pajak Potensial
Babi biasanya dijual dalam kondisi hidup kepada beberapa kenalannya baik dari Kota Batu maupun Malang Raya. Ia menambahkan, babi-babi ternaknya diberi makan berupa sayur-mayur dan buah apel sortiran.
Dia mengakui bahwa belum ada pengelolaan limbah pakan dan kotoran ternak yang terstandar. Selama ini pihaknya hanya melakukan pengelolaan limbah pakan dan kotoran seadanya alias sederhana.
Pemilik kandang mengaku hanya membuat lubang untuk mengumpulkan kotoran. Selanjutnya, kotoran tersebut diambil oleh kenalannya beberapa kali dalam seminggu. Sementara untuk air kencing babi, ia mengaku membuangnya langsung ke sungai.
BACA JUGA: Destinasi Wisata Wajib Ramah Disabilitas dan Minim Polusi, Pakar Pariwisata UM: Jangan Sekadar Indah
Dia menegaskan selama belum ada tempat lain yang representatif, ia tidak bisa pindah dari dari kandangnya sekarang. Dirinya juga berharap pemerintah bisa memfasilitasi kandang komunal apabila aktivitasnya dianggap mengganggu.
Terkait pengecekan yang akan dilakukan Distan-KP Kota Batu, ia mengaku tak akan mempermasalahkan. (dia/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan