BATU - Musik lokal kembali dimanfaatkan sebagai medium promosi daerah. Grup musik asal Kota Batu, Kopi Pait, merilis ulang lagu bertema Ramadan dengan balutan aransemen keroncong dan muatan kearifan lokal.
Karya terbaru ini berupa video musik lagu Kota Wisata Batu (KWB) yang dirilis pada 14 Februari lalu . Lagu tersebut dihadirkan kembali dengan konsep baru yang lebih kontekstual dengan momentum Ramadan.
BACA JUGA Libur Lebaran, Jalanan Kota Batu Terancam Macet Parah: One Way dan Jalur Alternatif Disiapkan
Pencipta lagu, Sebastian Arie Veda, mengatakan pembaruan dilakukan pada aransemen dan visual. Lagu lama dikemas ulang agar lebih relevan dan menjangkau generasi muda. “Kami mengangkat nuansa Ramadan dengan konsep simbolik ‘setan dikurung’, tapi tidak dalam bentuk horor,” ujarnya.
Konsep itu dimaknai sebagai representasi spiritual selama bulan puasa. Visual yang ditampilkan menekankan nilai filosofis, bukan unsur mistis. Dalam liriknya, lagu ini tetap mengangkat identitas lokal.
BACA JUGA Arak Ogoh-Ogoh, Warga Lintas Agama di Kota Batu Bersatu Sambut Nyepi
Kawasan Songgoriti menjadi salah satu fokus utama yang ditonjolkan sebagai ikon wisata Kota Batu. Veda menilai Songgoriti memiliki nilai strategis, baik secara ekonomi maupun kultural. “Ada wisata air panas, lanskap alam, situs sejarah, hingga vila. Itu kami rangkum dalam lirik,” katanya.
Selain pariwisata, sektor pertanian juga menjadi bagian penting dalam narasi lagu. Gambaran tentang petani, tanah subur, dan kehidupan sosial masyarakat Batu diperkuat melalui lirik yang sederhana tapi representatif.
BACA JUGA Lebaran dan Nyepi Berdekatan, Toleransi Warga Tulungrejo Bumiaji Kian Menguat
Lagu ini sebenarnya telah dirilis sejak 2018. Saat itu difokuskan sebagai media promosi wisata dan UMKM. Kini, konsepnya diperbarui melalui kolaborasi dengan grup keroncong lokal. Pendekatan ini dipilih untuk menghadirkan nuansa berbeda sekaligus memperkuat identitas musikal berbasis tradisi.
Melalui karya ini, Kopi Pait ingin menunjukkan bahwa musik lokal dapat berperan lebih dari sekadar hiburan. Musik bisa menjadi alat promosi budaya sekaligus penguat identitas daerah. Mereka juga berharap karya ini mampu memperluas ruang apresiasi bagi musik lokal, terutama di tengah momentum Ramadan.
Editor : Fajar Andre Setiawan