
SEPI: Deretan penjual bunga taman di kawasan Jalan Bukit Berbunga, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu beberapa hari lalu. (ZANADIA MANIK FATIMAH/RADAR BATU)
BATU - Perubahan pola belanja masyarakat selama Ramadan berdampak langsung pada pasar tanaman hias di Kota Batu. Permintaan bunga taman turun hingga sekitar 50 persen dibandingkan hari normal. Penurunan mulai terasa sejak pekan kedua bulan puasa. Petani menyebut masyarakat kini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok menjelang Lebaran.
Salah satu petani sekaligus distributor bunga taman di Desa Bulukerto Khusnul Khotimah mengatakan volume pesanan menurun cukup tajam. “Biasanya sekali kirim nilainya bisa sampai Rp1 juta. Sekarang rata-rata hanya sekitar Rp500 ribu,” ujarnya.
Selama ini ia rutin mengirim bunga taman ke beberapa daerah, termasuk Surabaya. Namun dalam beberapa pekan terakhir, permintaan dari luar daerah ikut menurun. Menurut Khusnul, sebagian pelanggan hanya memesan jasa perapian taman menjelang Lebaran. Pekerjaan yang dilakukan umumnya sebatas merawat tanaman yang sudah ada.
Berkurangnya pesanan turut memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Jika pada kondisi ramai ia melibatkan hingga delapan pekerja, kini satu atau dua orang sudah cukup untuk menangani pesanan. Meski demikian, Khusnul menilai penurunan ini bukan hal baru. Permintaan bunga taman memang sering melemah menjelang hari besar keagamaan.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Peminat Kerajinan Rotan Masih Lesu
“Biasanya turun menjelang Lebaran atau saat anak-anak sekolah akan masuk lagi,” ujarnya. Ia juga mengaku tidak hanya mengandalkan produksi dari lahannya sendiri. Untuk memenuhi permintaan, ia tetap mengambil pasokan dari petani bunga lain di Kota Batu.
Petani bunga di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji Nur Aziz juga merasakan penurunan serupa. Namun, menjelang Lebaran, beberapa jenis bunga justru mengalami peningkatan permintaan. “Terutama mawar dan sedap malam banyak diburu untuk kebutuhan ziarah dan bunga tabur,” tandasnya. (dia/dre)
Disunting kembali oleh: Satya Eka Pangestu - Mahasiswa Universitas Negeri Malang
Editor : Fajar Andre Setiawan