Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Ancaman Kekerasan Seksual Perempuan Masih Mengintai di Kota Batu

Aditya Novrian • Senin, 9 Maret 2026 | 09:30 WIB

Kekerasan seksual masih mengintai. (freepik/pikisuperstar)
Kekerasan seksual masih mengintai. (freepik/pikisuperstar)

BATU - Kerentanan perempuan terhadap kekerasan masih menjadi persoalan serius di Kota Batu. Berbagai faktor sosial, mulai dari pernikahan usia anak hingga relasi kuasa di tempat kerja, dinilai menjadi pintu masuk munculnya kekerasan terhadap perempuan.

Fenomena tersebut disoroti Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Batu Rudi Budianto. Ia menilai perlindungan terhadap perempuan harus dimulai sejak mereka masih berstatus anak.

Menurutnya, tingginya pernikahan dini sering menjadi awal dari berbagai persoalan rumah tangga. Ketidaksiapan mental dan ekonomi membuat pasangan muda mudah terjebak konflik. “Perempuan akhirnya harus mengasuh anak dalam kondisi belum siap secara ekonomi maupun psikologis,” ujarnya.

Situasi itu membuat perempuan rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Selain faktor keluarga, Rudi juga menyoroti perubahan perilaku sosial akibat paparan teknologi. Akses yang semakin mudah terhadap konten pornografi dinilai ikut memengaruhi cara pandang sebagian laki-laki terhadap perempuan. 

Ia menyebut muncul kecenderungan mindset yang semakin seksual dan objektifikasi terhadap perempuan. Kondisi tersebut juga memicu maraknya pelecehan verbal yang sering dianggap sekadar candaan. Padahal, komentar terhadap tubuh atau fisik perempuan merupakan bentuk pelecehan yang sering tidak disadari.

“Ironisnya, ketika korban menegur, mereka justru dicap baper,” kata Rudi. Menurut dia, ruang aman bagi perempuan kini semakin terbatas. Kasus pelecehan seksual tidak hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga di lingkungan yang seharusnya aman. Termasuk di lingkungan pendidikan hingga lembaga keagamaan.

“Banyak kasus pelecehan justru terjadi di lingkungan terdekat, bahkan di dalam keluarga,” ujarnya. Rudi juga menegaskan cara berpakaian bukan faktor utama yang memicu kekerasan seksual. Menurutnya, korban bisa berasal dari latar belakang apa pun, termasuk perempuan yang berpakaian tertutup.

“Kontrol utama ada pada moral dan cara pandang pelaku,” tegasnya. Kerentanan perempuan juga muncul di dunia profesional. Rudi menilai masih ada praktik eksploitasi yang memanfaatkan posisi kuasa di tempat kerja.

Dalam beberapa kasus, perempuan menghadapi tekanan terselubung untuk memenuhi kepentingan pribadi atasan demi karier atau pekerjaan. “Ini ironi. Profesionalisme bisa kalah oleh relasi kuasa dan kepentingan pribadi,” ujarnya. (ori/dre)

 

Editor : Aditya Novrian
#kekerasan seksual #batu