BATU - Tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batu menunjukkan penurunan signifikan sepanjang 2025. Meski demikian, pemerintah kota menegaskan kewaspadaan tetap harus dijaga dengan memperkuat gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus di tingkat masyarakat.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat, kasus DBD yang sempat melonjak hingga 444 kasus pada 2024 berhasil ditekan menjadi 169 kasus pada akhir 2025. Penurunan ini dinilai sebagai hasil penguatan langkah preventif yang digencarkan pemerintah bersama masyarakat.
Lonjakan kasus pada 2024 menjadi alarm serius bagi Pemkot Batu untuk memperkuat mitigasi kesehatan lingkungan. Upaya pencegahan kini tidak hanya difokuskan di tingkat kota, tetapi juga digerakkan hingga lingkup dusun, RW, dan rumah tangga.
Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, penurunan kasus patut disyukuri, namun tidak boleh membuat masyarakat lengah. Menurutnya, pola DBD sangat fluktuatif karena dipengaruhi faktor cuaca dan kondisi lingkungan. “Penurunan ini jangan sampai membuat kita lengah. Polanya fluktuatif, jadi antisipasi harus tetap di level tertinggi,” tegasnya.
Politikus yang akrab disapa Cak Nur itu menekankan pentingnya transformasi PSN menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan. Upaya pemberantasan sarang nyamuk tidak boleh hanya dilakukan saat muncul kasus atau fogging, melainkan menjadi rutinitas warga.
“Kunci keberhasilannya ada pada partisipasi aktif masyarakat. Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan adalah benteng terkuat,” ujarnya. Pemkot Batu kembali menggencarkan sosialisasi gerakan 3M Plus.
Program ini meliputi menguras tempat penampungan air secara berkala, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk.
Langkah tambahan juga didorong, seperti penggunaan kelambu, penanaman tanaman pengusir nyamuk, serta pemeliharaan ikan pemakan jentik. Dia berharap konsistensi warga dalam menjaga kebersihan lingkungan mampu memutus siklus hidup nyamuk sejak dini. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho