BATU - Komposisi keberangkatan Calon Jemaah Haji (CJH) Kota Batu tahun 2026 menunjukkan dinamika kuota dan mobilitas jemaah yang kian fleksibel. Dari total 226 jemaah yang dipastikan berangkat dalam kloter empat Embarkasi Surabaya, sebanyak 80 di antaranya merupakan jemaah mutasi dari Kabupaten Malang.
Kondisi ini menegaskan penataan kloter haji tak lagi sepenuhnya berbasis administrasi wilayah. Namun, menyesuaikan domisili, pendampingan keluarga, serta distribusi kuota nasional. Kepala Kemenhaj Kota Batu, Basuki Rachmat, menyebut jemaah mutasi mayoritas berasal dari Malang bagian barat seperti Kecamatan Dau, Ngantang, dan Kasembon.
Secara geografis, tiga wilayah itu lebih dekat dengan Kota Batu. Penyesuaian itu dilakukan untuk mempermudah mobilitas jemaah sekaligus pengaturan teknis keberangkatan. “Mutasi dilakukan untuk menyesuaikan domisili, kemudahan pendampingan keluarga, serta pengaturan kloter keberangkatan,” ujar Basuki.
Secara keseluruhan, dari 226 jemaah dalam kloter empat, sebanyak 146 orang merupakan jemaah asal Kota Batu. Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding kuota awal yang semula hanya 129 jemaah. Penambahan terjadi seiring masuknya jemaah cadangan dan penyesuaian kuota nasional.
Basuki menyebut, perluasan kuota tersebut merupakan hasil dari proses pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dilakukan bertahap. Selain itu, juga karena adanya jemaah cadangan yang akhirnya masuk daftar berangkat. “Awalnya kuota 129 lalu jadi 146, termasuk cadangan yang akhirnya masuk keberangkatan tahun ini,” ungkapnya.
Tercatat sebanyak 157 CJH asal Kota Batu telah melunasi Bipih. Namun, pelunasan tidak otomatis menjamin keberangkatan. Penentuan tetap mengacu pada kuota nasional, prioritas lansia, serta penyesuaian administrasi. Pelunasan Bipih sendiri berlangsung dalam tiga tahap. Tahap terakhir berakhir pada 23 Januari lalu.
Para CJH Kota Batu akan tergabung dalam kloter empat Embarkasi Surabaya bersama jemaah dari sejumlah daerah lain. Total jemaah dalam kloter tersebut mencapai 374 orang. Rinciannya, 53 jemaah dari Kota Surabaya, 84 dari Kabupaten Probolinggo, 11 dari Kabupaten Pasuruan, serta 226 jemaah dari Kota Batu.
Sesuai jadwal, seluruh jemaah direncanakan berangkat menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada 22 April 2026. Sehari setelahnya, 23 April 2026, rombongan dijadwalkan terbang menuju Tanah Suci. Basuki memastikan kesiapan jemaah sejauh ini relatif matang. Proses administrasi, bimbingan manasik, hingga pemeriksaan kesehatan telah berjalan.
“Kondisi kesehatan jemaah secara umum baik dan siap berangkat. Insyaallah seluruh 226 CJH dalam kloter ini berangkat tahun ini, termasuk Wali Kota Batu beserta istri,” ujarnya. Wali Kota Batu bersama istri diketahui semula masuk daftar cadangan. Namun kemudian naik dan dipastikan berangkat dalam musim haji tahun ini.
Sementara itu, staf Kemenhaj Kota Batu, Zainal Arifin, menambahkan jemaah tertua dalam rombongan berusia 84 tahun. Sedangkan, jemaah termuda berusia 24 tahun yang juga berperan sebagai pendamping lansia. Komposisi usia tersebut menunjukkan keberagaman karakter jemaah, sekaligus pentingnya sistem pendampingan selama ibadah.
Untuk penguatan kesiapan, bimbingan manasik haji terpusat dijadwalkan 9 Februari di Aula Al-Ikhlas. Kegiatan itu akan menghadirkan pemateri dari Kantor Wilayah Kementerian Agama serta pembimbing haji tersertifikasi. Selain itu, bimbingan manasik juga dilaksanakan melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) masing-masing dengan empat kali pertemuan.
Dengan komposisi jemaah lintas wilayah dan kuota yang berkembang, keberangkatan haji Kota Batu tahun ini menjadi cerminan bagaimana kebijakan nasional dan kebutuhan lokal saling menyesuaikan. Di tengah keterbatasan kuota, fleksibilitas administrasi dan distribusi kloter menjadi kunci agar lebih banyak jemaah dapat berangkat. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho