BATU - Jumlah pengangguran di Kota Batu mengalami kenaikan meski tingkat partisipasi kerja warga justru melonjak tajam. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu mencatat, hingga 2025 terdapat 5.024 penduduk yang masih menganggur. Angka ini naik 357 orang dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 4.667 pengangguran.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah lonjakan signifikan jumlah penduduk yang masuk kategori angkatan kerja. Data BPS mencatat, total angkatan kerja Kota Batu pada 2025 mencapai 142.486 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 137.462 orang telah bekerja. Sementara sisanya masih berstatus pencari kerja.
Kepala BPS Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo menjelaskan, bertambahnya jumlah pengangguran tidak serta-merta mencerminkan memburuknya kondisi pasar kerja. Sebab, dalam periode yang sama, tingkat pengangguran terbuka (TPT) justru menurun.“Meski begitu TPT turun dari 3,63 persen pada 2024 menjadi 3,53 persen pada 2025,” ujarnya.
Dia meyebut salah satu penyebab utamanya yakni lonjakan penduduk yang masuk angkatan kerja. Secara tahunan, jumlah angkatan kerja meningkat 10,91 persen. Dari semula 128.470 orang pada 2024, melonjak menjadi 142.486 orang pada 2025. Artinya, terdapat tambahan 14.016 penduduk yang aktif mencari pekerjaan sepanjang tahun lalu.
“Dari tambahan itu, 7.759 orang sudah terserap ke dunia kerja,” imbuh Herlina. Namun, cepatnya pertumbuhan angkatan kerja membuat penurunan TPT relatif terbatas, hanya sekitar 0,1 persen. Dengan komposisi tersebut, Herlina menilai keterserapan tenaga kerja di Kota Batu masih tergolong baik.
“Dari setiap 100 orang angkatan kerja, sekitar tiga sampai empat orang masih menganggur. Itu termasuk mereka yang sedang mencari pekerjaan, menyiapkan usaha, atau memilih belum bekerja,” jelasnya. Berdasarkan sektor, mayoritas penduduk bekerja di sektor jasa dengan jumlah 88.568 orang.
Sektor manufaktur menyerap 26.066 tenaga kerja. Sementara sektor pertanian menampung 22.828 orang. Struktur ini menunjukkan ketergantungan ekonomi Kota Batu pada sektor jasa dan pariwisata.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batu Thomas Wunang Tjahtjo menyebut lonjakan angkatan kerja sebagai sinyal positif. Hal ini tercermin dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang meningkat signifikan dari 73,53 persen pada 2024 menjadi 80,53 persen pada 2025, atau naik tujuh poin.
“Kenaikan TPAK menunjukkan minat warga untuk bekerja semakin tinggi,” tegasnya. Tren positif tersebut juga terlihat dari menyempitnya kesenjangan partisipasi kerja berdasarkan jenis kelamin.
Jika pada 2024 partisipasi kerja laki-laki mencapai 87,33 persen dan perempuan 59,65 persen, pada 2025 angkanya menjadi 88,45 persen untuk laki-laki dan 72,57 persen untuk perempuan. “Artinya, semakin banyak perempuan yang aktif masuk pasar kerja,” katanya.
Menurutnya, sektor pariwisata, perdagangan, dan usaha mikro menjadi pintu masuk utama, seiring meningkatnya jumlah perempuan yang berwirausaha maupun bekerja di sektor informal, termasuk sebagai pengemudi ojek daring.
Peningkatan partisipasi tersebut juga didorong berbagai program pemerintah yang menyasar kelompok perempuan, seperti pelatihan membatik, menjahit, pemasaran, hingga pertanian produktif. Meski demikian, Wunang mengingatkan tingginya TPAK sekaligus menjadi tantangan baru.
“Semakin banyak yang masuk pasar kerja, persaingan akan makin ketat. Tidak semuanya terserap sektor formal, sehingga wirausaha menjadi pilihan rasional bagi sebagian warga,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : Aditya Novrian