Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Lewat Pameran “Garis Hijau”, Seniman Batu Kritik Maraknya Betonisasi Kota Wisata

Aditya Novrian • Jumat, 16 Januari 2026 | 09:00 WIB
IRONI: Salah seorang pengunjung mengamati instalasi seni bertajuk Pray For Batu karya Agus Sujito dalam pameran bertema “Garis Hijau” di Galeri Raos. (Zanadia Manik/Radar Batu)
IRONI: Salah seorang pengunjung mengamati instalasi seni bertajuk Pray For Batu karya Agus Sujito dalam pameran bertema “Garis Hijau” di Galeri Raos. (Zanadia Manik/Radar Batu)

BATU - Arus pembangunan dan kelestarian ruang hijau di Kota Batu disorot secara terbuka melalui bahasa seni. Sebanyak 49 seniman yang tergabung dalam Yayasan Pondok Seni Batu memamerkan puluhan karya seni rupa bertema ”Garis Hijau” di Galeri Raos, Kota Batu. Pameran yang berlangsung hingga 31 Januari ini menjadi bentuk kritik atas menyusutnya ruang ekologis di tengah laju pembangunan kota wisata.

Sebanyak 50 karya ditampilkan dalam pameran tersebut. Terdiri atas 45 karya dua dimensi, empat karya tiga dimensi, serta satu instalasi seni yang dipasang di area depan galeri. Seluruh karya dirajut dalam satu benang merah yakni memotret alih fungsi lahan hijau, menurunnya debit sumber mata air, dan tergerusnya lahan pertanian produktif.

 Baca Juga: 15 Seniman Nasional Pamerkan 47 Karya Kaligrafi di gedung Graha Pancasila Kota Batu

Ketua Yayasan Pondok Seni Batu, Watoni, menyebut pameran ini berangkat dari kegelisahan kolektif para perupa terhadap perubahan wajah Kota Batu. Dahulu, kata dia, Batu dikenal sebagai kota pertanian dengan bentang alam hijau, perkebunan apel, dan udara sejuk pegunungan.

Namun, identitas itu perlahan memudar seiring pergeseran arah pembangunan.

"Transformasi dari kota pertanian menjadi kota wisata memicu lonjakan penduduk dan pembangunan infrastruktur yang masif. Di titik inilah terjadi kontestasi antara beton dan ruang hijau,” ujarnya.

 Baca Juga: Pohon Tua Tumbang Tutup Akses Jalan Trunojoyo Kota Batu

Menurut Watoni, sawah dan kebun yang selama ini menjadi penopang ekonomi warga kini semakin terdesak pembangunan properti dan fasilitas wisata. Dampaknya tak hanya ekologis, tetapi juga sosial-ekonomi. Terutama bagi petani dan pelaku usaha berbasis sumber daya alam.

“Melalui pameran ini, kami tidak sekadar mencatat perubahan, tetapi juga menggugatnya. Harapannya, ada kesadaran kolektif untuk menata ulang visi pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sebelum hijau hanya tinggal cerita,” tegasnya.

Salah seorang seniman kontributor, Prie Wahyuono, menilai karya-karya dalam pameran ”Garis Hijau” merupakan respons atas ancaman nyata terhadap daya dukung lingkungan. Ia mengingatkan, alih fungsi lahan yang berlangsung secara ekstrem berpotensi memicu bencana ekologis.

“Jangan sampai apa yang sudah terjadi di daerah lain terulang di Kota Batu. Setidaknya, karya-karya ini bisa menjadi alarm dini,” tuturnya. Ia menambahkan, pameran ini juga mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu sebagai bagian dari kampanye pelestarian lingkungan dan ruang terbuka hijau.

Apresiasi juga datang dari pengunjung. Citra, pengunjung asal Kabupaten Blitar, menilai pameran tersebut mampu menyampaikan pesan ekologis secara kuat dan reflektif. “Karyanya berbicara lantang. Semoga kesadaran untuk merawat hijau Kota Batu bisa tumbuh kembali,” pungkasnya. (dia/dre)

Editor : Aditya Novrian
#pameran #seniman