BATU - Lonjakan kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026 berdampak terhadap timbulan sampah di Kota Batu. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat peningkatan volume sampah harian hingga 10-12 ton per hari dibandingkan hari-hari biasa.
Meski meningkat, angka tersebut masih berada di bawah proyeksi awal DLH yang memperkirakan lonjakan bisa menembus 20 ton per hari. Dengan demikian, total timbulan sampah harian selama periode Nataru berada di kisaran 130-135 ton per hari.
Kepala DLH Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan menjelaskan, kenaikan volume sampah tidak terjadi secara merata. Lonjakan paling signifikan terkonsentrasi di ruas jalan protokol dan kawasan strategis yang berdekatan dengan destinasi wisata. “Secara keseluruhan, kenaikannya hanya sekitar 10 persen dari timbulan sampah harian normal,” ujarnya.
Dian menilai relatif terkendalinya sampah Nataru tidak terlepas dari kebijakan preventif yang ditempuh Pemkot Batu. Salah satunya melalui Surat Edaran Wali Kota Batu Nomor 658.1/3702/35.79.410/2025 tentang Penanganan Sampah Nataru. Dalam edaran itu, pelaku usaha pariwisata diminta menerapkan prinsip minim sampah selama periode libur panjang.
“Pelaku usaha diimbau tidak menggunakan dekorasi berbahan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan material yang bisa digunakan ulang,” kata Dian. Selain itu, pengelola destinasi diwajibkan melakukan pemilahan sampah secara mandiri, terutama antara sisa makanan, sampah kemasan plastik, dan residu.
Menurutnya, pemilahan sejak daei tingkat keluarga sangat menentukan kecepatan dan efektivitas pengolahan di hilir. Tanpa pemilahan, beban di fasilitas pengolahan akan meningkat dan berpotensi memicu penumpukan.
Imbauan serupa juga diarahkan kepada wisatawan. Dian mengaku mendorong pengunjung membawa perlengkapan ramah lingkungan seperti botol minum isi ulang, alat makan pribadi, dan sedotan nonplastik. “Edukasi ke wisatawan sama pentingnya dengan pengawasan ke pelaku usaha,” tegas Dian.
Dari sisi operasional, DLH memastikan tidak ada kendala berarti selama periode Nataru. Seluruh timbulan sampah dapat ditangani dengan skema one day process, tanpa menyisakan penumpukan dari hari ke hari. Optimalisasi fasilitas pengolahan juga menjadi kunci.
DLH memaksimalkan pengoperasian insinerator dan big composter di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung. Di sisi lain, Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, and Recycle (TPS3R) turut dioptimalkan agar seluruh sampah dapat diolah secara menyeluruh. Ia memprediksi volume sampah akan kembali landai seiring masuknya arus balik dan dimulainya hari kerja efektif pada pekan depan. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho