Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pengguna Jasa "Mas Tolong Mas" di Kota Batu Meledak hingga Tak Terlayani

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 28 Desember 2025 | 16:55 WIB

SEMRINGAH: Salah satu customer layanan Mas Tolong Mas (MTM) menerima pesanan yang diminta beberapa waktu lalu.
SEMRINGAH: Salah satu customer layanan Mas Tolong Mas (MTM) menerima pesanan yang diminta beberapa waktu lalu.

BATU - Di tengah gempuran aplikasi layanan serba instan, muncul fenomena baru di Kota Batu. Yakni jasa bantuan personal berbasis relasi dan kepercayaan, bukan algoritma. Layanan jasa itu dikenal dengan nama Mas Tolong Mas (MTM). Layanan ini justru kebanjiran permintaan setelah viral di TikTok.

Bahkan, penyedianya sampai kewalahan dan terpaksa menolak sejumlah pelanggan setiap hari. Berdasarkan penelusuran wartawan Jawa Pos Radar Batu, saat ini masih ada satu penyedia jasa MTM yang aktif beroperasi di Kota Batu yakni Yuliar Ade Kristanto. Pemuda asal Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri itu membuka layanan tersebut sejak Oktober lalu.

Lonjakan permintaan baru benar-benar terasa dalam beberapa pekan terakhir, seiring salah satu videonya menembus 180,5 ribu kali tayang di TikTok. “Dalam sehari saya hanya bisa melayani sekitar lima sampai tujuh customer. Yang tidak terlayani bisa lima sampai sepuluh orang per hari,” kata Yuliar, yang akrab disapa Kris.

Keterbatasan kapasitas itu bukan tanpa sebab. Kris saat ini tengah menjalani masa magang di Kota Batu. Jasa MTM ia jalankan di sela waktu luang, sebelum berangkat dan sepulang dari tempat magang. Kondisi tersebut membuatnya harus selektif menerima permintaan, meski minat masyarakat terus meningkat.

“Awalnya memang cuma niat bantu. Sekalian mengenal Kota Batu,” ujarnya. Sesuai namanya, jasa MTM melayani berbagai kebutuhan mendesak dan sederhana. Mulai dari mengantar karena motor mogok, membelikan makanan, mengisi bensin, hingga membantu servis gawai.

Dari seluruh permintaan itu, jasa pembelian makanan menjadi yang paling dominan. Yang menarik, tarif layanan tidak ditentukan secara baku. Pembayaran bersifat sukarela, bergantung pada kesepakatan dan kerelaan pelanggan. Bagi Kris, MTM bukan semata soal keuntungan.

“Ini untuk mengisi waktu luang. Saya memang suka jalan-jalan,” katanya. Hingga kini, jangkauan layanan MTM masih terbatas di wilayah Kota Batu. Daerah terjauh yang pernah dilayani berada di Kecamatan Bumiaji, termasuk Desa Tulungrejo dan sekitarnya. Mayoritas pelanggan datang dari TikTok dan memanfaatkan jasa pada malam hari.

Alasan yang paling sering muncul yakni malas keluar rumah. Namun, ia menyadari keterbatasan tersebut. Kris berencana mencari rekan agar permintaan yang masuk bisa tertangani. Ia juga berniat mengembangkan layanan lain seperti teman nugas, teman ngopi, hingga teman main. “Biar tidak ada lagi permintaan yang tertolak,” pungkasnya. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#mtm #Bumiaji #kota batu #tiktok