Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

57 Lukisan Bencana Sumatra Dipamerkan di Galeri Raos Kota Batu

Fajar Andre Setiawan • Selasa, 23 Desember 2025 | 16:12 WIB
JADI AJANG REFLEKSI: Pengunjung  Lukisan karya Ahmad Saihu mengangkat ironi kerusakan dan bencana alam di Sumatera tampak bertengger di Galeri Raos kemarin (22/12).
JADI AJANG REFLEKSI: Pengunjung Lukisan karya Ahmad Saihu mengangkat ironi kerusakan dan bencana alam di Sumatera tampak bertengger di Galeri Raos kemarin (22/12).

BATU - Pameran seni lukis di Galeri Raos Kota Batu kali ini tak sekadar menyuguhkan keindahan visual. Sebanyak 57 lukisan karya enam perupa justru menghadirkan potret getir kerusakan hutan dan bencana alam di Sumatra, lengkap dengan kritik tajam terhadap perilaku manusia dan kekuasaan yang dianggap abai terhadap lingkungan.

Meski tidak seluruh karya secara eksplisit mengangkat bencana Sumatra, benang merah kegelisahan ekologis dan sosial terasa kuat di hampir setiap kanvas. Lukisan-lukisan itu merekam relasi timpang antara manusia, alam, dan kepentingan ekonomi yang kerap berujung petaka.

“Tema Sumatra dan bencana itu berangkat dari keresahan,” ujar Anwar, salah satu perupa yang terlibat dalam pameran tersebut. Ia mencontohkan visual bongkahan kayu yang terseret air bah sebagai simbol deforestasi yang memicu bencana beruntun.

Kritik terhadap kekuasaan tampil lebih frontal dalam karya Tam ak garapan Ahmad Saihu. Lukisan tersebut menggambarkan sosok manusia dengan mata setengah tertutup, mengenakan kalung buah kelapa sawit berukuran besar. “Itu simbol ketamakan penguasa,” kata Anwar, menafsirkan karya tersebut sebagai sindiran terhadap kebijakan eksploitatif.

Sementara itu, karya-karya Riyanto hadir dalam dominasi warna hitam-putih. Hampir seluruh lukisannya menyoroti terusiknya habitat satwa akibat perambahan hutan. Salah satunya berjudul Semua Melotot. Lukisannya menampilkan aktivitas hewan dalam kondisi terdesak. Termasuk figur gajah yang mengangkat batang pohon.

Itu semua merupakan metafora eksploitasi alam yang kian brutal. Menurutnya, seniman harus peka dan mampu menyuarakan kegelisahannya melalui karya. Pameran ini, kata Riyanto membuka ruang tafsir publik terhadap isu-isu lingkungan yang selama ini kerap tereduksi menjadi sekadar data dan angka.

Pameran dijadwalkan berlangsung hingga 6 Januari mendatang. Selain menjadi ruang refleksi ekologis, agenda ini juga diharapkan menarik minat wisatawan, khususnya selama masa libur akhir tahun. “Biasanya saat liburan banyak pengunjung dari luar kota, minimal dari jejaring kami,” imbuhnya.

Enam perupa yang terlibat dalam pameran ini yakni Ahmad Saihu, Anwar, Prie Wahyuono, Riyanto, Soegiono, dan Yusfianto. Terpisah, Ahmad Saihu menegaskan karya-karyanya lahir dari empati terhadap korban bencana sekaligus kritik atas buruknya tata kelola lingkungan.

“Kerusakan alam dan lemahnya penanganan bencana bukan semata musibah. Itu akumulasi keputusan yang perlahan menyakiti rakyat,” tegasnya. Bagi Saihu, lukisan menjadi medium untuk berbicara dan menghadirkan suara bagi mereka yang terdampak, yang kerap tenggelam di balik statistik dan rutinitas pemberitaan. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#keindahan visual #lukisan #Karya 24 penulis #kota batu