BATU - Lonjakan kebutuhan pangan menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mulai memicu tekanan inflasi di Kota Batu. Sejumlah komoditas pangan strategis tercatat mengalami kenaikan harga signifikan dalam dua pekan terakhir. Hal itu memaksa pelaku usaha makanan dan minuman (mamin) menyesuaikan harga jual demi menutup biaya produksi yang kian membengkak.
Berdasarkan data Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (PSDA), Indeks Perkembangan Harga (IPH) menunjukkan tren menanjak. Pada pekan pertama Desember, inflasi tercatat sebesar 1,62 persen secara month to month (mtm). Angka tersebut meningkat tajam menjadi 2,50 persen pada pekan berikutnya.
“Inflasi paling tinggi disumbang tiga komoditas utama, yakni cabai rawit, bawang merah, dan daging ayam ras,” ujar Diyah Wahyuni, Analis Kebijakan Ahli Muda Bidang Perekonomian dan SDA. Dari ketiga komoditas tersebut, cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 1,81 persen.
Disusul bawang merah sebesar 0,39 persen dan daging ayam ras sebesar 0,33 persen. Kenaikan ini didorong lonjakan permintaan, terutama dari sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) yang bersiap menyambut arus wisatawan selama Nataru. “Kebutuhan pelaku usaha meningkat untuk menjaga ketersediaan stok di tengah lonjakan kunjungan wisata,” ucapnya.
Dampak inflasi juga tampak di Pasar Induk Among Tani. Harga cabai rawit melonjak hingga Rp80 ribu per kilogram. Harganya jauh di atas normal yang biasanya berkisar Rp20-30 ribu per kilogram. “Sebelumnya sempat Rp60 ribu, sekarang sudah Rp80 ribu,” kata Misnah, salah seorang pedagang.
Ia memperkirakan harga masih berpotensi naik jika pasokan terus menipis, terutama akibat cuaca yang tidak menentu dan mengganggu produktivitas petani. Berdasarkan tren tahun-tahun sebelumnya, harga cabai rawit bahkan bisa menembus Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram.
Data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur juga menunjukkan tren serupa. Harga cabai rawit tercatat mencapai Rp71 ribu per kilogram, sementara cabai merah besar naik menjadi Rp54 ribu per kilogram dari harga normal sekitar Rp32 ribu.
Kenaikan harga bahan baku tersebut berdampak langsung pada pelaku usaha katering. Bidang Humas Paguyuban Catering Pariwisata Eka Junarsih mengatakan para pengusaha sepakat menaikkan harga jual paket makanan, baik prasmanan maupun nasi kotak.
“Kami melakukan penyesuaian harga sekitar 8-10 persen per porsi,” ujarnya.
Keputusan itu diambil karena lonjakan harga bahan pangan dinilai sudah tidak sebanding dengan biaya produksi. Eka merinci, harga daging sapi kini menembus Rp125 ribu per kilogram, sementara daging ayam berada di kisaran Rp39-40 ribu per kilogram. Kenaikan juga terjadi hampir di seluruh jenis sayuran.
Menurut Eka, gejolak harga pangan sejatinya sudah berlangsung sejak Agustus lalu. Namun kian terasa menjelang akhir tahun. Penyesuaian harga dinilai menjadi langkah realistis untuk menjaga kualitas produk sekaligus keberlanjutan usaha. “Kenaikan ini bukan semata mencari untung, tapi agar usaha tetap berjalan dan kualitas makanan terjaga,” tegasnya.
Ia berharap seluruh anggota paguyuban mematuhi kesepakatan bersama dengan batas penyesuaian harga maksimal 10-15 persen per paket. Dengan demikian, beban kenaikan harga bahan baku dapat dibagi secara proporsional tanpa terlalu memberatkan konsumen. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho