Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Stok Pangan Selama Natal dan Tahun Baru di Kota Batu Dipastikan Aman

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 17 Desember 2025 | 17:22 WIB
LAYANI PEMBELI: Salah seorang pedagang pasar pagi melayani pembeli kemarin (16/12). Sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga menjelang momentum libur Nataru.
LAYANI PEMBELI: Salah seorang pedagang pasar pagi melayani pembeli kemarin (16/12). Sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga menjelang momentum libur Nataru.

BATU - Ketersediaan bahan pokok penting (bapokting) selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Kota Batu dalam kondisi aman. Meski permintaan diprediksi meningkat signifikan, stok pangan dinyatakan cukup untuk menopang kebutuhan masyarakat dan wisatawan. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), seluruh komoditas utama masih berada dalam kondisi surplus, mulai beras, sayuran, hingga minyak goreng.

Kepala Distan-KP Kota Batu Heru Yulianto menjelaskan lonjakan konsumsi tertinggi diperkirakan terjadi pada periode 22-28 Desember. Pada kondisi normal, konsumsi pangan rata-rata mencapai 309 ton per minggu. Angka itu diprediksi naik menjadi 323,68 ton per minggu selama Nataru. Namun, stok yang tersedia mencapai 356,05 ton per minggu, sehingga masih terdapat surplus sekitar 32,37 ton per minggu.

“Artinya, meskipun permintaan meningkat, ketersediaan stok tetap aman,” ujar Heru.

Grafis Ketersediaan Pangan di Kota Batu Selama Libur Nataru 2026
Grafis Ketersediaan Pangan di Kota Batu Selama Libur Nataru 2026

Ia menyebut ketahanan stok tersebut tidak lepas dari langkah antisipatif yang dilakukan sejak awal tahun. Salah satunya dengan mendorong penanaman komoditas yang diprediksi mengalami lonjakan permintaan. Contohnya cabai rawit, yang kebutuhan mingguannya di Kota Batu mencapai 14 ton, sementara stok yang tersedia sekitar 15 ton per minggu.

Produktivitas lahan cabai bahkan mampu mencapai 6-8 ton per hektare. Selain dari sisi produksi, stabilisasi pasokan juga ditopang melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM). Namun, Heru menyebut pelaksanaannya pada momentum Nataru tahun ini tidak bisa dimaksimalkan karena keterbatasan anggaran. GPM hanya akan digelar dalam waktu dekat dengan komoditas beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sekitar dua ton saja.

“Harganya Rp58 ribu per lima kilogram, sedikit lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya Rp55 ribu karena subsidi ongkos kirim tidak bisa ditekan,” jelasnya. Upaya pengendalian juga dilakukan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag). Kabid Perdagangan Diskumperindag Nurbianto Puji menyebut setidaknya ada tujuh komoditas yang berpotensi mengalami lonjakan permintaan selama Nataru.

Di antaranya bawang merah, cabai, daging sapi, daging ayam, mi instan, telur, dan tepung. Untuk mengantisipasi gejolak harga dan pasokan, pihaknya akan mengintensifkan inspeksi mendadak (sidak) pasar, operasi pasar murah, serta pengawasan distribusi. “Kami mulai sidak pasar sekitar 17 Desember besok (hari ini) untuk memastikan stok tersedia dan harga tetap terkendali,” kata pria yang akrab disapa Kentor itu.

Ia menegaskan pengendalian inflasi tidak hanya soal kecukupan stok, tetapi juga keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif antarwilayah. Menurutnya, pemantauan harga secara berkala dan stabilisasi pasar penting untuk menekan spekulan. “Keseimbangan harga harus dijaga. Konsumen terlindungi daya belinya, sementara petani dan peternak tetap memperoleh harga yang layak,” pungkasnya. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#kota batu #bapokting #tpid #nataru