BATU - Potensi lonjakan sampah selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) dipastikan dapat diolah 100 persen setiap harinya. Seluruh Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse and Recycle (TPS3R) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung bakal dioperasikan maksimal agar tumpukan sampah tidak menumpuk hingga hari berikutnya.
Volume sampah Nataru diprediksi mencapai 140 ton per hari. Jumlahnya naik dari rata-rata harian yakni 120 ton. Kenaikan 20 ton itu mayoritas berasal dari kawasan wisata dan 21 ruas jalan protokol. “Lonjakan tertinggi biasanya terjadi di titik-titik yang dekat pusat keramaian,” ujar Zaenal Abidin, Koordinator TPS3R Kecamatan Batu.
Contohnya di TPS3R Kelurahan Sisir, yang berdekatan dengan Alun-Alun Kota Wisata Batu serta kawasan hotel, restoran, dan kafe. Pada momen libur panjang, sampah di titik itu bisa naik dari 8 ton menjadi 10,4 ton per hari. Produksi sampah organik mendominasi mencapai 7-8 ton. Untuk antisipasi, TPS3R Sisir akan mengoperasikan insinerator selama 24 jam.
Unit insinerator lama juga diaktifkan kembali untuk menambah kapasitas sekitar 1,5 ton. Penambahan jam kerja menjadi strategi berikutnya. Jika hari biasa pembakaran berlangsung pukul 07.00–19.00, saat Nataru nanti petugas bakal lembur hingga dini hari. Bahkan petugas yang biasanya libur pada hari Minggu dijadwalkan masuk khusus untuk pemilahan.
Zaenal menegaskan pemilahan menjadi tahap paling memakan waktu. Sampah yang tidak dipilah dari sumbernya menyebabkan proses pengolahan membutuhkan waktu lama. Sementara rumah kompos baru masih dalam tahap pembangunan. Untuk itu, pengolahan sampah organik dilakukan dengan metode sederhana yang perlu waktu lebih panjang.
Kondisi berbeda terjadi di Kelurahan Ngaglik yang belum memiliki TPS3R. Seluruh sampah dari wilayah itu masih diolah di TPA Tlekung. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan menyebut TPA Tlekung sudah menerapkan skema one day process. “Saat Nataru, pembakaran di hari Minggu tetap akan dilakukan,” ujarnya.
Tujuannya agar tidak menambah beban di hari berikutnya. Tantangan lainnya adalah cuaca. Hujan membuat sampah basah dan memperlambat proses pembakaran lebih lama. Untuk itu, Dian akan memanfaatkan dana insentif fiskal untuk pengadaan atap galvalum dan besi hollow di titik pengolahan.
TPS3R yang memiliki hanggar representatif dinilai siap menghadapi cuaca ekstrem.
Namun, persoalan terbesar tetap pada kesadaran memilah sampah dari rumah baik warga maupun wisatawan. Pada masa kunjungan tinggi, wisatawan di Kota Batu bisa mencapai 2-3 juta per bulan. Mereka menyumbang kenaikan volume sampah yang signifikan.
Karena itu, Dian intens melakukan kampanye jelang Nataru. Terutama imbauan membuang sampah pada tempatnya dan memilah sesuai kategori. “Reduksi sejak sumber sangat menentukan. Semakin baik pemilahan, semakin ringan beban TPA Tlekung,” tegasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho